Kesehatan Anak

Anak Kekurangan Zat Besi: Gejala, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya.

Zat besi merupakan salah satu nutrisi penting yang berperan besar dalam tumbuh kembang anak. Mineral ini dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Ketika anak kekurangan zat besi, tubuh tidak dapat memproduksi hemoglobin secara optimal. Akibatnya, anak berisiko mengalami anemia defisiensi besi, kondisi yang dapat mempengaruhi energi, daya tahan tubuh, hingga perkembangan otak dan kemampuan belajar.

Lalu, apa saja tanda anak kekurangan zat besi? Apa penyebabnya, dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasan lengkap berikut.

Apa Itu Kekurangan Zat Besi pada Anak?

Kekurangan zat besi pada anak terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk memenuhi kebutuhan pembentukan sel darah merah yang sehat.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi, yaitu kadar hemoglobin rendah akibat kurangnya zat besi.

Kondisi ini cukup sering terjadi, terutama pada:

  • Bayi usia 6–24 bulan
  • Anak yang picky eater
  • Anak dengan pola makan kurang seimbang
  • Anak yang lahir prematur atau berat badan lahir rendah

Gejala Anak Kekurangan Zat Besi

Gejala kekurangan zat besi pada anak terkadang muncul perlahan dan sering tidak disadari. Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai:

1. Anak Terlihat Pucat

Kulit, bibir, atau bagian dalam kelopak mata tampak lebih pucat dari biasanya.

2. Mudah Lelah dan Kurang Energi

Anak tampak cepat lelah, lemas, tidak aktif, atau lebih sering ingin beristirahat.

3. Sulit Konsentrasi

Kekurangan zat besi dapat mempengaruhi fungsi otak sehingga anak menjadi:

  • Sulit fokus
  • Mudah terdistraksi
  • Penurunan performa belajar

4. Nafsu Makan Menurun

Beberapa anak dengan kekurangan zat besi mengalami penurunan nafsu makan.

5. Mudah Rewel atau Mudah Marah

Anak mungkin tampak lebih sensitif, rewel, atau mood berubah-ubah.

6. Pertumbuhan Kurang Optimal

Dalam beberapa kasus, defisiensi zat besi dapat mempengaruhi tumbuh kembang.

7. Sering Sakit

Zat besi berperan dalam sistem imun. Kekurangan zat besi dapat membuat anak lebih rentan infeksi.

8. Pica

Anak memiliki kebiasaan makan benda yang bukan makanan, seperti:

  • Es batu
  • Tanah
  • Kertas

Ini bisa menjadi tanda kekurangan zat besi.

Penyebab Anak Kekurangan Zat Besi

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan anak kekurangan zat besi:

1. Asupan Zat Besi Kurang

Penyebab paling umum adalah pola makan yang minim sumber zat besi, misalnya:

  • Jarang makan daging merah
  • Kurang konsumsi sayuran hijau
  • Tidak cukup protein

2. Konsumsi Susu Berlebihan

Terlalu banyak minum susu sapi dapat:

  • Membuat anak cepat kenyang
  • Mengurangi asupan makanan padat
  • Menghambat penyerapan zat besi

3. Pertumbuhan Cepat

Bayi dan balita membutuhkan zat besi lebih tinggi karena sedang dalam masa pertumbuhan pesat.

4. Lahir Prematur atau BBLR

Bayi prematur memiliki cadangan zat besi lebih sedikit dibanding bayi cukup bulan.

5. Gangguan Penyerapan Nutrisi

Beberapa kondisi medis dapat mengganggu penyerapan zat besi, seperti:

  • Gangguan pencernaan
  • Alergi makanan tertentu
  • Penyakit usus

Dampak Kekurangan Zat Besi pada Anak

Kekurangan zat besi tidak hanya menyebabkan anemia, tetapi juga dapat berdampak pada perkembangan anak.

Gangguan Perkembangan Otak

Zat besi penting untuk perkembangan sistem saraf dan fungsi kognitif.

Dampaknya:

  • Kesulitan belajar
  • Penurunan IQ
  • Gangguan memori dan konsentrasi

Gangguan Tumbuh Kembang

Anak dapat mengalami pertumbuhan yang kurang optimal.

Menurunkan Daya Tahan Tubuh

Anak lebih mudah sakit dan pemulihan lebih lambat.

Gangguan Perilaku

Beberapa anak dapat mengalami perubahan perilaku dan emosi.

Cara Mengatasi Anak Kekurangan Zat Besi

Penanganan tergantung tingkat keparahan dan penyebabnya.

1. Perbaiki Pola Makan

Berikan makanan kaya zat besi seperti:

Sumber zat besi hewani (lebih mudah diserap)

  • Daging merah
  • Hati
  • Ayam
  • Ikan
  • Telur

Sumber zat besi nabati

  • Bayam
  • Brokoli
  • Kacang-kacangan
  • Tahu dan tempe
  • Sereal fortifikasi

2. Kombinasikan dengan Vitamin C

Vitamin C membantu penyerapan zat besi lebih optimal.

Contoh:

  • Jeruk
  • Kiwi
  • Stroberi
  • Tomat
  • Jambu biji

Contoh kombinasi:

  • Daging + jus jeruk
  • Bayam + tomat

3. Batasi Konsumsi Susu Berlebihan

Hindari konsumsi susu berlebihan, terutama jika anak jadi menolak makan.

4. Suplemen Zat Besi

Dokter dapat merekomendasikan suplemen zat besi jika diperlukan. Jangan memberikan suplemen tanpa anjuran dokter.

5. Pemeriksaan Medis

Jika anak menunjukkan tanda kekurangan zat besi, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan:

  • Hemoglobin
  • Ferritin
  • Pemeriksaan darah lengkap

Cara Mencegah Kekurangan Zat Besi pada Anak

Pencegahan lebih baik dilakukan sejak dini.

Berikan MPASI kaya zat besi

Saat mulai MPASI, prioritaskan sumber protein dan zat besi.

Pola makan seimbang

Pastikan anak mendapat kombinasi:

  • Karbohidrat
  • Protein
  • Lemak sehat
  • Vitamin dan mineral

Rutin kontrol tumbuh kembang

Pantau berat badan, tinggi badan, dan status nutrisi anak.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika anak:

  • Tampak pucat berkepanjangan
  • Mudah lelah
  • Sulit fokus
  • Nafsu makan buruk
  • Pertumbuhan melambat

Evaluasi sejak dini penting untuk mencegah dampak jangka panjang.

Kesimpulan

Anak kekurangan zat besi adalah kondisi yang cukup sering terjadi namun tidak boleh dianggap sepele. Kekurangan zat besi dapat memengaruhi energi, daya tahan tubuh, perkembangan otak, hingga tumbuh kembang anak secara keseluruhan.

Orang tua perlu mengenali gejala sejak dini, memastikan asupan makanan kaya zat besi, dan berkonsultasi ke dokter bila diperlukan. Dengan penanganan yang tepat, kebutuhan zat besi anak dapat terpenuhi sehingga tumbuh kembangnya tetap optimal.

Segera lakukan konsultasi dan jadwalkan appointment melalui WhatsApp atau kunjungi website resmi KMNC di kmnc.co.id untuk informasi layanan dan promo terbaru lainnya.

Referensi:

  1. World Health Organization (WHO)
    World Health Organization. Anaemiahttps://www.who.int/health-topics/anaemia
  2. World Health Organization (WHO)
    World Health Organization. Guideline on use of ferritin concentrations to assess iron status in individuals and populationshttps://www.who.int/publications/i/item/9789240000124
  3. Mayo Clinic
    Mayo Clinic Staff. Iron deficiency in children: Prevention tips for parents –  https://www.mayoclinic.org/health/iron-deficiency/MY01654
  4. Mayo Clinic
    Mayo Clinic Staff. Iron deficiency anemia: Symptoms and causes – https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034
  5. NHS (National Health Service)
    NHS. Iron deficiency anaemiahttps://www.nhs.uk/conditions/iron-deficiency-anaemia/
  6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
    CDC. Iron and Iron Deficiencyhttps://www.cdc.gov/nutrition/infantandtoddlernutrition/vitamins-minerals/iron.html 
  7. American Academy of Pediatrics (AAP)
    American Academy of Pediatrics. Where We Stand: Vitamin D & Iron Supplements for Babies –  https://www.healthychildren.org
  8. National Institutes of Health (NIH)
    NIH Office of Dietary Supplements. Iron Fact Sheet for Health Professionalshttps://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

dr. Hanna Khairat, Sp.A

dr.Hanna Khairat,Sp.A adalah dokter spesialis anak di KMNC Graha Raya dan BSD. Sebagai dokter anak, dr.Hanna Khairat,Sp.A percaya bahwa setiap anak memiliki ritme tumbuh kembangnya sendiri.Ia selalu berupaya menciptakan suasana konsultasi yang nyaman bagi anak dan orang tua, sambil memberikan edukasi yang mudah dipahami seputar imunisasi, nutrisi, serta tumbuh kembang anak.Pendekatan yang sabar dan komunikatif menjadikan dr. Nadia sosok dokter yang dipercaya banyak keluarga.

dr. Hanna Khairat, Sp.A adalah dokter spesialis anak yang berpengalaman dalam menangani kesehatan bayi, balita, dan anak secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang ramah, sabar, dan komunikatif, dr. Hanna berkomitmen memberikan pelayanan medis yang aman, nyaman, serta edukatif bagi anak dan orang tua.

Beliau fokus mendampingi tumbuh kembang anak sejak usia dini, membantu pencegahan dan penanganan berbagai masalah kesehatan anak, serta memberikan edukasi yang mudah dipahami agar orang tua merasa lebih tenang dan percaya diri dalam merawat buah hati.

Educational Background:
1. Exchange Program, Department of Orthopedics, Santa Maria
Della Misericordia Hospital, Perugia,
Italy. (2013)
2. Medical Doctor, Andalas University (2014)
3. Pediatric Residency, University of Indonesia (2023)

Keahlian & Layanan Medis
1. Konsultasi kesehatan bayi, balita, dan anak
2. Pemantauan tumbuh kembang anak
3. Imunisasi anak sesuai jadwal
4. Penanganan penyakit umum pada anak
5. Konsultasi nutrisi dan status gizi anak
6. Edukasi kesehatan anak dan parenting
7. Pemeriksaan kesehatan anak rutin
8. Konsultasi tindak lanjut pasca sakit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from - Youtube
Vimeo
Consent to display content from - Vimeo
Google Maps
Consent to display content from - Google
Spotify
Consent to display content from - Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from - Sound