
JAKARTA — Siklus menstruasi yang datang tidak menentu kerap membuat perempuan bertanya-tanya. Apalagi jika haid hanya datang setiap beberapa bulan sekali. Salah satu kondisi yang kemudian sering dikaitkan dengan menstruasi tidak teratur adalah PMOS (polyendocrine metabolic ovarian syndrome), istilah baru untuk kondisi yang sebelumnya dikenal sebagai PCOS atau polycystic ovary syndrome.
Namun, apakah setiap perempuan yang memiliki siklus haid tidak teratur berarti mengalami PMOS?
Jawabannya, belum tentu.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Betaria Ratri Prima, Sp.OG, menjelaskan bahwa menstruasi yang tidak teratur dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Karena itu, diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab sebenarnya, terutama jika gangguan siklus terjadi berulang atau disertai gejala lain.
Haid Tidak Teratur Tidak Selalu Berarti PMOS
Menstruasi merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi hormonal dan fungsi reproduksi perempuan. Namun, perubahan siklus menstruasi tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan seseorang mengalami PMOS.
Dalam penjelasannya, dr. Betaria menyampaikan:
“Mens nggak teratur, langsung PMOS? 🤔 Belum tentu, yaa. Soalnya mens yang nggak teratur itu penyebabnya bisa banyak banget.”
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keteraturan menstruasi antara lain stres berkepanjangan, olahraga terlalu berat, serta kenaikan atau penurunan berat badan secara drastis.
Perubahan pola tidur, penggunaan kontrasepsi hormonal, kehamilan, serta beberapa gangguan hormonal seperti masalah tiroid juga dapat menyebabkan menstruasi menjadi tidak teratur. Karena itu, gangguan menstruasi tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai tanda PMOS.
Dengan kata lain, satu gejala saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis.
Stres hingga Pola Tidur Bisa Berpengaruh
Rutinitas sehari-hari juga dapat berkaitan dengan perubahan siklus menstruasi.
Tekanan pekerjaan, masalah pribadi, perubahan berat badan, kurang asupan energi, hingga aktivitas fisik yang terlalu berat dapat mempengaruhi sistem hormonal tubuh. Pada kondisi tertentu, perubahan tersebut dapat membuat menstruasi datang lebih cepat, lebih lambat, atau bahkan tidak datang untuk sementara.
Karena itu, dr. Betaria juga mengingatkan pentingnya menjaga pola tidur.
“Kadang juga cuma karena hormon lagi nggak seimbang sementara atau pola tidur yang berantakan. Makanya… bobo itu penting banget 😴✨”
Meski demikian, gangguan menstruasi yang terus berulang tetap perlu dievaluasi. Terutama ketika jarak antar menstruasi semakin panjang atau haid tidak datang selama beberapa bulan.
Lalu, Apa Hubungannya Haid Tidak Teratur dengan PMOS?
Haid yang jarang atau tidak teratur memang dapat menjadi tanda adanya gangguan ovulasi, salah satu karakteristik yang dapat ditemukan pada PMOS.
Namun, haid tidak teratur saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami PMOS.
Pada perempuan dewasa, pedoman internasional menggunakan tiga kelompok karakteristik utama dalam diagnosis, yaitu:
- Gangguan ovulasi, yang dapat terlihat dari siklus menstruasi yang tidak teratur atau jarang.
- Hiperandrogenisme, yaitu tanda klinis atau hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan kadar androgen meningkat.
- Gambaran ovarium polikistik pada pemeriksaan ultrasonografi atau, pada perempuan dewasa dalam kondisi tertentu, peningkatan kadar AMH.
Diagnosis pada orang dewasa umumnya memerlukan dua dari tiga karakteristik tersebut setelah penyebab lain yang menyerupai PMOS disingkirkan. Jika seorang perempuan sudah memiliki siklus tidak teratur dan bukti hiperandrogenisme, USG ovarium atau pemeriksaan AMH tidak selalu diperlukan untuk menegakkan diagnosis.
Artinya, USG yang menunjukkan banyak folikel saja juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami PMOS.
Bagaimana Cara Memastikan Haid Tidak Teratur karena PMOS atau Bukan?
Ini merupakan bagian penting yang perlu dipahami perempuan.
Jika mengalami haid tidak teratur, langkah yang tepat bukan langsung membeli obat atau menyimpulkan diri mengalami PMOS, tetapi berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi untuk menjalani evaluasi sesuai kondisi.
Pemeriksaannya dapat meliputi beberapa tahap berikut.
1. Dokter akan menelusuri riwayat menstruasi
Pemeriksaan biasanya dimulai dengan menggali pola menstruasi.
Dokter dapat menanyakan:
- kapan menstruasi terakhir;
- seberapa sering menstruasi datang;
- berapa lama menstruasi berlangsung;
- apakah sebelumnya siklus teratur atau memang sejak awal tidak teratur;
- apakah pernah tidak menstruasi selama beberapa bulan;
- apakah terdapat perdarahan yang sangat banyak atau keluhan lainnya.
Informasi tersebut membantu dokter melihat apakah terdapat pola gangguan ovulasi.
Karena itu, perempuan yang akan berkonsultasi sebaiknya membawa catatan siklus menstruasi beberapa bulan terakhir jika tersedia.
2. Dokter akan mencari tanda kelebihan hormon androgen
PMOS dapat berkaitan dengan hiperandrogenisme, yaitu kondisi ketika terdapat tanda klinis atau kadar androgen yang meningkat.
Dokter akan melihat apakah terdapat tanda seperti:
- pertumbuhan rambut berlebih pada wajah atau tubuh;
- jerawat yang berat atau menetap;
- penipisan rambut dengan pola tertentu;
- perubahan lain yang mengarah pada kelebihan androgen.
Pedoman internasional merekomendasikan pemeriksaan testosteron total dan testosteron bebas untuk menilai hiperandrogenisme secara biokimia. Pemeriksaan androgen lain seperti androstenedion atau DHEAS dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu.
Jadi, jerawat atau rambut rontok saja tidak cukup untuk memastikan PMOS.
3. Pemeriksaan darah dapat diperlukan
Jika dokter mencurigai PMOS, pemeriksaan laboratorium dapat membantu menilai kondisi hormonal sekaligus menyingkirkan penyakit lain yang dapat menyebabkan gejala serupa.
Pedoman internasional merekomendasikan evaluasi terhadap beberapa kondisi lain, termasuk:
- TSH untuk mengevaluasi fungsi tiroid;
- prolaktin untuk menilai kemungkinan hiperprolaktinemia;
- 17-hydroxyprogesterone (17-OHP) untuk membantu menyingkirkan hiperplasia adrenal kongenital non-klasik;
- FSH, terutama bila kondisi klinis mengarah pada gangguan tertentu;
- pemeriksaan androgen seperti testosteron total dan bebas sesuai indikasi.
Pemeriksaan tersebut tidak harus semuanya dilakukan pada setiap pasien. Jenis pemeriksaan ditentukan dokter berdasarkan usia, keluhan, riwayat menstruasi, obat yang digunakan, pemeriksaan fisik, serta dugaan penyebabnya.
4. USG dapat dilakukan untuk melihat kondisi ovarium
Dokter juga dapat merekomendasikan USG panggul, termasuk USG transvaginal pada pasien yang sesuai.
Pemeriksaan ini dapat membantu melihat gambaran ovarium dan organ reproduksi lainnya. Dalam evaluasi PMOS, USG dapat digunakan untuk menilai apakah terdapat polycystic ovarian morphology (PCOM) atau gambaran ovarium dengan jumlah folikel yang sesuai kriteria.
Namun, penting digarisbawahi:
Ovarium dengan banyak folikel pada USG tidak otomatis berarti PMOS.
USG merupakan salah satu bagian dari proses diagnosis, bukan satu-satunya penentu.
Pada perempuan dewasa, AMH juga dapat digunakan sebagai alternatif USG untuk mendefinisikan PCOM dalam algoritme diagnosis tertentu, tetapi AMH tidak dianjurkan digunakan sebagai satu-satunya pemeriksaan untuk mendiagnosis PMOS.
5. Dokter akan menyingkirkan penyebab lain
Inilah alasan mengapa konsultasi dokter menjadi penting. Gejala PMOS dapat menyerupai beberapa kondisi lain. Karena itu, dokter perlu memastikan apakah gangguan menstruasi memang berkaitan dengan PMOS atau justru disebabkan oleh kondisi lain.
Misalnya:
Haid tidak teratur → belum tentu PMOS
Bisa saja berkaitan dengan:
stres / perubahan berat badan / olahraga berlebihan / gangguan tiroid / peningkatan prolaktin / kehamilan / efek obat atau kontrasepsi / gangguan hormonal lainnya → atau PMOS.
Dengan menelusuri kemungkinan tersebut, dokter dapat menghindari diagnosis yang hanya berdasarkan satu gejala.
Apakah Harus USG untuk Mengetahui PMOS?
Tidak selalu.
Ini merupakan hal yang juga penting diluruskan. Pada perempuan dewasa yang sudah menunjukkan siklus tidak teratur sekaligus tanda hiperandrogenisme, pedoman internasional menyebutkan bahwa pemeriksaan USG ovarium atau AMH tidak diperlukan untuk memenuhi kriteria diagnosis.
Sebaliknya, USG dapat membantu ketika dokter membutuhkan informasi tambahan mengenai kondisi ovarium atau ketika kriteria diagnosis belum lengkap.
Jadi, pemeriksaan yang tepat bukan berarti “haid tidak teratur → langsung USG → kalau banyak folikel berarti PMOS.”
Diagnosis harus melihat kondisi secara keseluruhan.
Kenali Tanda Lain yang Bisa Menyertai PMOS
Menurut dr. Betaria, PMOS tidak hanya berkaitan dengan menstruasi yang jarang.
“Nah, PMOS itu bukan cuma soal mens yang jarang. Biasanya disertai juga dengan beberapa tanda lain.”
Beberapa tanda yang dapat menyertai antara lain:
1. Jerawat yang cukup parah
Perubahan androgen dapat berkaitan dengan munculnya jerawat yang lebih berat atau sulit dikendalikan. Namun, jerawat saja bukan penanda spesifik PMOS.
2. Perubahan pertumbuhan atau kerontokan rambut
Sebagian perempuan dapat mengalami pertumbuhan rambut berlebih, sementara yang lain dapat mengalami penipisan atau kerontokan rambut dengan pola tertentu. Hirsutisme merupakan salah satu tanda klinis hiperandrogenisme yang penting dalam evaluasi PMOS.
3. Berat badan mudah naik atau sulit turun
Perubahan berat badan dapat ditemukan pada sebagian perempuan dengan PMOS, tetapi berat badan berlebih bukan syarat diagnosis. PMOS juga dapat terjadi pada perempuan dengan berat badan dalam kisaran sehat.
4. Kesulitan mendapatkan kehamilan
Gangguan ovulasi pada PMOS dapat membuat sebagian perempuan mengalami kesulitan untuk hamil. Namun, PMOS bukan berarti seseorang tidak dapat hamil.
Kapan Haid Tidak Teratur Perlu Diperiksakan?
Perubahan siklus sesekali tidak selalu berarti terdapat penyakit. Namun, pola menstruasi yang terus berubah atau jarak menstruasi yang sangat panjang sebaiknya tidak diabaikan.
Terlebih jika menstruasi datang lebih dari 90 hari sekali, atau tidak menstruasi selama lebih dari tiga bulan tanpa penyebab yang jelas. Kondisi tersebut layak mendapatkan evaluasi medis.
Pemeriksaan juga semakin penting jika keluhan disertai:
- jerawat berat;
- pertumbuhan rambut berlebih;
- kerontokan atau penipisan rambut;
- perubahan berat badan;
- atau kesulitan mendapatkan kehamilan.
Jadi, Apa Tindakan yang Tepat?
Jika mengalami haid tidak teratur dan khawatir mengalami PMOS, langkah yang dapat dilakukan adalah:
- Catat pola menstruasi
Catat tanggal hari pertama menstruasi dan jarak antar siklus selama beberapa bulan. - Jangan langsung melakukan self-diagnosis
Haid tidak teratur merupakan gejala yang dapat disebabkan berbagai kondisi. - Konsultasi dengan dokter Sp.OG
Dokter akan menilai riwayat menstruasi, gejala yang menyertai, pemeriksaan fisik, serta faktor lain yang relevan. - Jalani pemeriksaan sesuai indikasi
Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan hormon, pemeriksaan untuk menyingkirkan penyebab lain, serta USG atau AMH pada kondisi tertentu. - Evaluasi hasil pemeriksaan secara keseluruhan
Diagnosis PMOS pada perempuan dewasa tidak ditentukan oleh satu hasil pemeriksaan saja, melainkan berdasarkan kombinasi kriteria dan setelah penyebab lain disingkirkan.
“Kalau Mens 2–3 Bulan Sekali, Jangan Ditunda”
Dalam pesannya, dr. Betaria mengingatkan perempuan agar tidak menunda pemeriksaan apabila menstruasi hanya datang setiap beberapa bulan dan disertai tanda-tanda lain.
“Kalau kamu ngalamin mens 2–3 bulan sekali dan ada tanda-tanda di atas, jangan ditunda ya 🤍 Yuk, periksa biar kita tahu ini PMOS atau ada penyebab lain, dan bisa ditangani dengan tepat ✨”
Pemeriksaan bukan hanya bertujuan memastikan apakah seseorang mengalami PMOS atau tidak. Lebih dari itu, evaluasi diperlukan untuk mencari penyebab gangguan menstruasi dan menentukan penanganan yang sesuai.
Dengan begitu, perempuan tidak hanya mendapatkan jawaban atas pertanyaan “apakah ini PMOS?”, tetapi juga mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.
Jangan Langsung Menyimpulkan dari Satu Gejala
Haid tidak teratur memang merupakan salah satu tanda yang dapat ditemukan pada PMOS. Namun, bukan berarti setiap perempuan dengan siklus menstruasi tidak teratur pasti mengalami PMOS.
Begitu pula sebaliknya, tidak semua perempuan dengan PMOS akan menunjukkan seluruh gejala yang sama.
Karena itu, pemeriksaan tetap diperlukan untuk melihat kondisi secara menyeluruh.
Seorang perempuan yang mengalami haid tidak teratur setelah stres berat mungkin memiliki penyebab yang berbeda dengan perempuan yang mengalami haid tidak teratur disertai tanda hiperandrogenisme. Demikian pula perempuan yang mengalami perubahan siklus karena gangguan tiroid akan membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Gejala yang sama belum tentu memiliki penyebab yang sama.
Dengarkan Sinyal dari Tubuh
Menstruasi yang datang setiap bulan memang bukan satu-satunya indikator kesehatan reproduksi. Namun, perubahan pola yang terjadi secara terus-menerus merupakan sinyal yang layak diperhatikan.
Terlebih ketika menstruasi menjadi sangat jarang dan disertai gejala lain seperti jerawat berat, perubahan pertumbuhan rambut, perubahan berat badan, atau kesulitan mendapatkan kehamilan.
Seperti pesan dr. Betaria:
“Dengerin tubuhmu, dia selalu kasih tanda.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap perempuan memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Alih-alih langsung menyimpulkan mengalami PMOS hanya karena siklus menstruasi tidak teratur, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan dokter Sp.OG dan menjalani pemeriksaan sesuai kebutuhan.
Dengan evaluasi yang tepat, dokter dapat membantu membedakan apakah gangguan menstruasi berkaitan dengan PMOS atau justru disebabkan oleh kondisi lain.
Yang terpenting bukan sekadar mengetahui “PMOS atau bukan”, tetapi menemukan penyebabnya agar penanganan dapat diberikan secara tepat sesuai kondisi masing-masing perempuan.
Untuk kalian yang ingin konsultasi langsung dengan dr. Betaria Ratri Prima, Sp.OG di KMNC BSD, bisa langsung appointment melalui Bumin via WhatsApp, ya!
Untuk informasi layanan dan promo menarik lainnya, kunjungi situs resmi KMNC di kmnc.co.id
Pendaftaran dan informasi:
WhatsApp: 0811-1028-232
Website resmi KMNC
