TANGERANG SELATAN — Menyusui memang merupakan proses alami, tetapi bukan berarti selalu berjalan tanpa tantangan. Sebagian ibu dapat mengalami berbagai kendala, mulai dari ASI yang dirasa tidak lancar, bayi sulit melekat pada payudara, puting nyeri atau lecet, payudara terasa penuh dan bengkak, hingga bayi belum mampu menyusu secara efektif.
Kondisi tersebut tidak selalu berarti produksi ASI ibu benar-benar kurang. Persepsi mengenai ASI yang sedikit perlu dilihat bersama dengan kondisi bayi, frekuensi menyusu, efektivitas pelekatan, kemampuan bayi mengisap dan menelan, pertumbuhan berat badan, serta jumlah urine dan feses bayi.
Karena itu, ketika muncul masalah menyusui, ibu tidak harus menghadapinya sendiri. Layanan laktasi KMNC Graha Raya yang berlokasi di Tangerang Selatan dapat menjadi pilihan bagi ibu yang membutuhkan pendampingan terkait menyusui, produksi ASI, pelekatan bayi, hingga relaktasi.
Pendampingan laktasi penting karena menyusui merupakan keterampilan yang perlu dipelajari oleh ibu dan bayi. WHO juga merekomendasikan konseling menyusui oleh tenaga yang terlatih untuk membantu ibu menghadapi berbagai tantangan selama masa menyusui.
Mengenali Berbagai Masalah yang Dapat Terjadi Saat Menyusui
Masalah menyusui dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak selalu berasal dari produksi ASI semata. Beberapa kondisi yang umum dikeluhkan ibu antara lain:
1. ASI terasa sedikit atau tidak lancar
Sebagian ibu merasa ASI tidak cukup karena payudara tidak lagi terasa penuh atau hasil pompa terlihat sedikit. Padahal, jumlah ASI yang keluar saat dipompa tidak selalu menggambarkan keseluruhan produksi ASI.
Penilaian kecukupan ASI juga perlu melihat kondisi bayi. Pada bayi baru lahir, misalnya, frekuensi menyusu, terdengar atau tidaknya suara menelan, jumlah popok basah dan kotor, serta perkembangan berat badan dapat menjadi bagian dari penilaian.
2. Bayi sulit melakukan pelekatan
Pelekatan yang kurang optimal dapat membuat proses menyusu menjadi tidak efektif. Bayi dapat sering terlepas dari payudara, terdengar suara mengeklik ketika menyusu, atau ibu mengalami nyeri dan puting lecet.
Pelekatan yang baik membantu bayi mendapatkan ASI secara efektif sekaligus dapat mengurangi trauma pada puting.
3. Puting nyeri atau lecet
Nyeri pada puting dapat terjadi terutama pada masa awal menyusui. Namun, nyeri yang menetap, puting pecah atau berdarah, maupun rasa sakit yang semakin berat perlu dievaluasi untuk mencari penyebabnya.
4. Payudara penuh atau bengkak
Payudara dapat terasa penuh, keras, hangat, atau tidak nyaman ketika produksi ASI meningkat atau pengeluaran ASI tidak optimal. Menyusui secara teratur dapat membantu mengurangi rasa penuh tersebut.
5. Bayi kesulitan menyusu langsung
Tidak semua bayi langsung mampu menyusu dengan efektif. Faktor seperti posisi, pelekatan, kemampuan menghisap dan menelan, maupun kondisi tertentu pada ibu dan bayi dapat mempengaruhi proses menyusui.
Dalam kondisi seperti ini, evaluasi langsung dapat membantu menentukan masalah dan langkah yang sesuai.
Tips Penanganan ASI Seret yang Bisa Dilakukan di Rumah
Ketika merasa produksi ASI menurun atau ASI tidak keluar sebanyak biasanya, ada beberapa langkah yang dapat dicoba di rumah. Namun, penting untuk memahami bahwa istilah “ASI seret” tidak selalu menunjukkan penyebab yang sama pada setiap ibu.
1. Susui bayi lebih sering sesuai tanda lapar
Frekuensi pengosongan payudara berperan dalam mempertahankan produksi ASI. Pada masa awal kehidupan, bayi dapat menyusu cukup sering, bahkan setiap 1–3 jam. Menyusui atau memerah ASI secara teratur memberikan sinyal kepada tubuh untuk terus memproduksi ASI.
2. Perhatikan posisi dan pelekatan bayi
Pastikan mulut bayi terbuka lebar dan tidak hanya melekat pada puting. Saat menyusu, ibu seharusnya dapat melihat atau mendengar bayi menelan secara teratur.
Jika bayi terus-menerus terlepas, terdengar suara mengklik, atau menyusui terasa sangat sakit, teknik pelekatan sebaiknya dievaluasi.
3. Jika bayi tidak menyusu langsung, lakukan pemerahan secara teratur
Ketika bayi belum dapat menyusu langsung secara efektif, pemerahan ASI dapat membantu memberikan stimulasi pada payudara. CDC menyebutkan bahwa apabila ibu tidak menyusui langsung, pemerahan atau pemompaan dapat dilakukan sesering bayi biasanya menyusu.
4. Lakukan skin-to-skin
Kontak kulit ke kulit dapat menjadi bagian dari dukungan proses menyusui dan membantu ibu serta bayi membangun kedekatan. WHO memasukkan skin-to-skin sebagai bagian dari praktik pendukung menyusui.
5. Pastikan kebutuhan nutrisi dan istirahat ibu tetap diperhatikan
Ibu menyusui tetap membutuhkan makanan bergizi, cairan yang cukup sesuai rasa haus, dan kesempatan untuk beristirahat. Namun, tidak ada satu makanan atau minuman tertentu yang secara otomatis dapat meningkatkan produksi ASI pada semua ibu.
Karena penyebab produksi ASI rendah dapat berbeda-beda, ibu sebaiknya tidak hanya mengandalkan makanan atau pelancar ASI tanpa mengetahui penyebab masalahnya.
6. Jangan menunda konsultasi jika ada tanda bayi tidak mendapatkan cukup ASI
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain bayi sulit melekat, tidak terdengar menelan saat menyusu, tetap rewel setelah menyusu, berat badan terus menurun setelah hari kelima, atau jumlah urine dan feses lebih sedikit dari yang diharapkan sesuai usia bayi.
Jika muncul tanda tersebut, evaluasi oleh dokter atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang laktasi diperlukan.
Relaktasi, Upaya untuk Kembali Membangun Produksi ASI
Bagi ibu yang pernah berhenti menyusui atau mengalami jeda pemberian ASI, masih terdapat kondisi tertentu di mana produksi ASI dapat kembali dibangun melalui proses relaktasi.
WHO mendefinisikan relaktasi sebagai proses kembalinya produksi ASI setelah seorang ibu berhenti menyusui atau berhenti memproduksi ASI, baik baru-baru ini maupun sudah cukup lama.
Proses relaktasi tidak selalu sama pada setiap ibu dan bayi. Keberhasilannya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia bayi, lamanya jeda menyusui, kondisi kesehatan ibu dan bayi, kemampuan bayi menyusu, serta seberapa efektif payudara mendapatkan stimulasi.
Karena itu, relaktasi sebaiknya dilakukan dengan pendampingan yang sesuai, bukan sekadar meningkatkan frekuensi memompa tanpa mengetahui penyebab sebelumnya.
Beberapa aspek yang dapat dievaluasi dalam pendampingan relaktasi meliputi:
- Kondisi ibu dan bayi
Riwayat menyusui, alasan berhenti menyusui, kondisi kesehatan ibu, kondisi bayi, pola pemberian ASI, serta kebutuhan nutrisi bayi perlu dipertimbangkan. - Teknik menyusui dan pelekatan
Posisi bayi, pelekatan, kemampuan mengisap dan menelan, serta efektivitas transfer ASI dapat dievaluasi. - Stimulasi payudara
Frekuensi menyusui atau memerah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kembali produksi ASI. Strateginya perlu disesuaikan dengan kondisi ibu dan bayi. - Pemantauan kecukupan asupan bayi
Selama proses relaktasi, kebutuhan nutrisi bayi tetap menjadi perhatian utama. Pemantauan berat badan dan tanda kecukupan asupan penting dilakukan. - Pendampingan berkelanjutan
Relaktasi merupakan proses yang membutuhkan waktu. Pendampingan dapat membantu ibu mengetahui perkembangan, mengevaluasi kendala, serta menyesuaikan strategi bila diperlukan.
Kapan Sebaiknya Ibu Berkonsultasi dengan Konselor Laktasi?
Konsultasi laktasi dapat dipertimbangkan ketika ibu mengalami kendala menyusui yang tidak kunjung membaik atau membutuhkan evaluasi lebih spesifik.
Beberapa kondisi yang dapat menjadi alasan untuk mencari bantuan antara lain:
- Bayi sulit melekat pada payudara.
- Menyusui terasa sangat sakit.
- Puting lecet atau berdarah.
- Bayi sering terlepas dari payudara.
- Ibu khawatir produksi ASI tidak mencukupi.
- Bayi sulit menyusu langsung.
- Ibu membutuhkan bantuan dalam penggunaan pompa ASI.
- Ibu ingin kembali menyusui setelah berhenti.
- Berat badan bayi tidak bertambah sesuai pemantauan tenaga kesehatan.
- Ibu membutuhkan pendampingan untuk persiapan menyusui sejak masa kehamilan.
WHO menekankan pentingnya dukungan menyusui oleh tenaga yang memiliki kompetensi karena konseling bukan hanya memberikan instruksi, tetapi juga membantu ibu memahami pilihan dan menghadapi tantangan sesuai kondisi masing-masing.
Bagaimana Memilih Layanan Laktasi yang Tepat?
Ketika memilih layanan konseling laktasi, ibu dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut:
1. Perhatikan kompetensi tenaga yang memberikan layanan
Pastikan tenaga kesehatan memiliki pendidikan, pelatihan, atau kredensial yang relevan dengan layanan laktasi. Salah satu kredensial profesional yang dikenal secara internasional adalah International Board Certified Lactation Consultant (IBCLC).
WHO pada 2026 juga menerbitkan toolkit mengenai kompetensi penyedia dukungan dan perawatan menyusui berbasis bukti, yang menekankan pentingnya pengetahuan, keterampilan, sikap, serta kemampuan praktis dalam memberikan dukungan laktasi.
2. Evaluasi dilakukan terhadap ibu dan bayi
Masalah menyusui sebaiknya tidak dinilai hanya berdasarkan jumlah ASI yang keluar ketika dipompa. Kondisi bayi, proses menyusu, pelekatan, pertumbuhan, dan faktor kesehatan ibu juga perlu dipertimbangkan.
3. Pendekatan disesuaikan dengan kondisi masing-masing
Tidak ada satu strategi yang cocok untuk seluruh ibu. Pendampingan sebaiknya mempertimbangkan kondisi medis, kebutuhan bayi, pola menyusui, aktivitas ibu, serta kondisi keluarga.
4. Konsultasi dilakukan secara komunikatif
Menyusui dapat menjadi pengalaman yang penuh tantangan bagi sebagian ibu. Konsultasi yang terbuka dan tidak menghakimi dapat membantu ibu memahami kondisi serta menentukan langkah yang realistis.
Layanan Laktasi KMNC Graha Raya, Tangerang Selatan
Layanan laktasi KMNC Graha Raya yang berlokasi di Tangerang Selatan hadir untuk membantu ibu menghadapi berbagai tantangan menyusui, mulai dari persiapan menyusui, kendala setelah persalinan, masalah pelekatan, hingga kebutuhan relaktasi.
Layanan ini juga dapat menjadi ruang bagi ibu untuk mendapatkan evaluasi dan edukasi mengenai kondisi menyusui yang sedang dialami, sehingga langkah yang diambil dapat disesuaikan dengan kebutuhan ibu dan bayi.
Salah satu tenaga yang memberikan layanan tersebut adalah dr. Sarah Audia Hasna, IBCLC, dokter dengan kredensial International Board Certified Lactation Consultant (IBCLC) di bidang laktasi.
Berdasarkan informasi yang tersedia, dr. Sarah menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) dan memberikan layanan konseling laktasi di KMNC Graha Raya, Tangerang Selatan.
Pendampingan dapat mencakup persiapan menyusui, evaluasi kendala setelah persalinan, hingga kebutuhan relaktasi. Pembahasan tidak hanya berfokus pada teknik menyusui, tetapi juga mempertimbangkan kondisi ibu dan bayi secara keseluruhan.
Jangan Menunggu Masalah Menyusui Semakin Berat
Kesulitan menyusui merupakan kondisi yang dapat dialami ibu dan bayi, terutama pada masa awal setelah persalinan. Menganggap masalah tersebut sebagai kegagalan ibu justru dapat membuat ibu terlambat mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Ketika produksi ASI dirasa menurun, bayi sulit menyusu, atau ibu mengalami masalah pelekatan dan nyeri saat menyusui, evaluasi lebih awal dapat membantu menemukan faktor yang mungkin menjadi penyebab.
Selain mencoba langkah sederhana di rumah, ibu dapat mencari pendampingan tenaga kesehatan yang kompeten di bidang laktasi apabila masalah menetap atau terdapat tanda bayi tidak mendapatkan asupan yang cukup.
Bagi ibu di Tangerang Selatan dan sekitarnya yang membutuhkan pendampingan menyusui maupun relaktasi, layanan laktasi KMNC Graha Raya dapat menjadi salah satu tempat untuk mendapatkan konsultasi dan edukasi sesuai kondisi ibu dan bayi.
Informasi mengenai jadwal dokter dan layanan laktasi di KMNC Graha Raya dapat diperoleh melalui kanal informasi resmi KMNC.
Referensi
- World Health Organization (WHO). Ensuring competency for providers of breastfeeding support and care. 2026.
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Breastfeeding Challenges. Committee Opinion No. 820. 2021.
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Optimizing Support for Breastfeeding as Part of Obstetric Practice. 2018.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Informasi dan edukasi kesehatan ibu dan anak. Kementerian Kesehatan RI
- Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Informasi dan edukasi profesi kedokteran. Ikatan Dokter Indonesia
- Kosambi Maternal and Children (KMNC). Profil dr. Sarah Audia Hasna, IBCLC.
- Kosambi Maternal and Children (KMNC). Layanan Laktasi dan Relaktasi KMNC.
