Kulit bayi yang baru lahir tampak kuning. Bagi sebagian orang tua, kondisi ini mungkin terlihat seperti sesuatu yang biasa. “Namanya juga bayi baru lahir, nanti kuningnya hilang sendiri.”
Memang benar, jaundice atau bayi kuning cukup sering terjadi pada masa awal kehidupan. American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut lebih dari 80% bayi baru lahir dapat mengalami derajat tertentu dari jaundice. Namun, anggapan bahwa semua bayi kuning pasti aman dan akan sembuh dengan sendirinya juga tidak sepenuhnya benar.
Pada sebagian bayi, kadar bilirubin dapat meningkat terlalu tinggi. Jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, bilirubin dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf yang serius.
Karena itu, ketika bayi terlihat kuning, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar “bagaimana cara menurunkan bilirubin dengan cepat?”, melainkan “seberapa tinggi kadar bilirubinnya dan apakah bayi membutuhkan penanganan?”
Apa Itu Bilirubin?
Bilirubin merupakan zat berwarna kuning yang terbentuk ketika tubuh memecah sel darah merah yang sudah tua.
Dalam kondisi normal, bilirubin diproses oleh hati kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui empedu dan tinja. Pada bayi baru lahir, proses tersebut belum seefisien pada anak yang lebih besar atau orang dewasa.
Akibatnya, bilirubin dapat menumpuk sementara di dalam darah dan menyebabkan kulit serta bagian putih mata terlihat kekuningan. Kondisi inilah yang disebut jaundice atau ikterus neonatorum.
Pada sebagian besar bayi, peningkatan bilirubin bersifat sementara. Namun, kadar bilirubin yang terlalu tinggi memerlukan pemantauan dan, pada kondisi tertentu, terapi medis.
Mengapa Bayi Baru Lahir Bisa Mengalami Kuning?
Ada beberapa alasan mengapa bayi lebih mudah mengalami peningkatan bilirubin pada hari-hari pertama kehidupannya.
1. Hati bayi masih dalam tahap pematangan
Hati bayi belum sepenuhnya matang dalam memproses dan membuang bilirubin. Akibatnya, bilirubin dapat lebih mudah menumpuk di dalam darah.
2. Bayi memiliki pergantian sel darah merah yang relatif tinggi
Bayi baru lahir memiliki jumlah sel darah merah yang cukup tinggi dan mengalami pemecahan sel darah merah sebagai bagian dari adaptasi setelah lahir.
Proses tersebut menghasilkan bilirubin lebih banyak.
3. Asupan ASI atau susu belum optimal
Pada hari-hari pertama, sebagian bayi mungkin belum mendapatkan asupan yang cukup. Bila asupan kurang, frekuensi buang air besar dapat berkurang sehingga bilirubin lebih lambat dikeluarkan dari tubuh.
Karena itu, dukungan terhadap proses menyusui menjadi bagian penting dalam perawatan bayi kuning. AAP merekomendasikan pemberian ASI sekitar 8–12 kali per hari pada beberapa hari pertama untuk bayi yang menyusu langsung.
4. Ketidakcocokan golongan darah
Pada kondisi tertentu, antibodi dari ibu dapat menyebabkan sel darah merah bayi lebih cepat dihancurkan. Kondisi seperti inkompatibilitas ABO atau Rh dapat meningkatkan risiko hiperbilirubinemia yang signifikan.
5. Infeksi atau kondisi medis tertentu
Infeksi, kelainan darah, gangguan fungsi hati, maupun gangguan pada saluran empedu juga dapat menyebabkan peningkatan bilirubin.
Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk menemukan penyebabnya.
Kuning pada Bayi: Normal atau Berbahaya?
Tidak semua bayi kuning membutuhkan fototerapi.
Yang perlu diperhatikan adalah kapan kuning muncul, seberapa tinggi kadar bilirubin, dan apakah bayi memiliki faktor risiko tertentu.
Menurut pedoman AAP 2022, keputusan untuk memberikan fototerapi pada bayi usia kehamilan ≥35 minggu ditentukan berdasarkan kadar bilirubin total serum (TSB), usia bayi dalam jam, usia kehamilan, serta faktor risiko neurotoksisitas bilirubin.
Dengan kata lain, tidak ada satu angka bilirubin yang otomatis berarti “aman” atau “berbahaya” untuk semua bayi.
Bayi dengan kadar bilirubin yang sama dapat memiliki rekomendasi penanganan berbeda jika usia atau faktor risikonya berbeda.
Kenapa Bilirubin yang Terlalu Tinggi Bisa Berbahaya?
Bilirubin dalam kadar yang sangat tinggi dapat menembus jaringan otak dan menyebabkan gangguan saraf.
Salah satu komplikasi paling serius adalah kernikterus, yaitu kerusakan otak akibat toksisitas bilirubin yang berat.
Kondisi tersebut memang jarang terjadi, tetapi dampaknya dapat menetap. Komplikasi dapat berupa gangguan gerak, gangguan pendengaran, gangguan perkembangan, hingga masalah neurologis lainnya.
Karena itu, deteksi dan pemantauan bilirubin sejak awal menjadi bagian penting dalam mencegah komplikasi tersebut. AAP menekankan pentingnya skrining bilirubin, pemantauan bayi setelah pulang, serta penanganan sesuai ambang terapi yang mempertimbangkan usia dan faktor risiko.
Waspadai Jika Bayi Kuning dalam 24 Jam Pertama
Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah jaundice yang muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir.
Menurut AAP, kuning pada 24 jam pertama merupakan salah satu faktor risiko penting untuk hiperbilirubinemia yang signifikan dan dapat berkaitan dengan proses hemolisis atau pemecahan sel darah merah yang berlebihan.
Karena itu, jangan menunggu warna kuning “hilang sendiri” jika bayi sudah terlihat kuning sejak hari pertama.
Tanda Bayi Kuning yang Perlu Segera Diperiksakan
Orang tua sebaiknya membawa bayi untuk mendapatkan pemeriksaan jika:
- Kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir.
- Warna kuning semakin pekat atau menyebar ke bagian tubuh yang lebih luas.
- Bayi sulit dibangunkan atau tampak sangat mengantuk.
- Bayi sulit menyusu atau asupannya jauh berkurang.
- Bayi tampak lemas.
- Bayi mengalami perubahan perilaku atau gerakan yang tidak biasa.
- Urine bayi tampak sangat gelap.
- Tinja bayi berwarna sangat pucat atau seperti dempul.
- Bayi tetap kuning lebih lama dari yang seharusnya dan tidak menunjukkan perbaikan.
Khusus urine yang gelap dan tinja yang pucat, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat mengarah pada masalah bilirubin terkonjugasi atau gangguan hati dan saluran empedu.
Bagaimana Dokter Mengetahui Kadar Bilirubin Bayi?
Warna kulit saja tidak cukup untuk menentukan seberapa tinggi kadar bilirubin.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan menggunakan:
1. Transcutaneous Bilirubin (TcB)
Pemeriksaan dilakukan menggunakan alat yang ditempelkan atau diarahkan ke kulit bayi untuk memperkirakan kadar bilirubin.
Metode ini cepat dan tidak membutuhkan pengambilan darah.
Namun, pada kondisi tertentu, hasilnya perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah.
2. Total Serum Bilirubin (TSB)
TSB merupakan pemeriksaan bilirubin melalui sampel darah.
Dalam pedoman AAP, TSB menjadi pemeriksaan definitif untuk menentukan keputusan fototerapi dan eskalasi penanganan, termasuk pertimbangan transfusi tukar.
3. Pemeriksaan tambahan
Jika dokter mencurigai adanya penyebab tertentu, pemeriksaan tambahan dapat dilakukan, misalnya pemeriksaan golongan darah, direct antiglobulin test (DAT), pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati, atau pemeriksaan lain sesuai kondisi bayi.
Bagaimana Cara Menurunkan Bilirubin pada Bayi?
Ini bagian yang sering membuat orang tua mencari informasi di internet.
Namun, perlu diluruskan bahwa tidak ada satu cara yang bisa digunakan untuk menurunkan bilirubin dengan cepat pada semua bayi.
Penanganan bergantung pada penyebab dan tingkat bilirubin.
1. Pastikan Asupan Bayi Cukup
Bayi perlu mendapatkan asupan yang cukup agar tetap terhidrasi dan bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine dan tinja.
Untuk bayi yang menyusu langsung, pemberian ASI secara sering dan dukungan menyusui dapat membantu memastikan asupan tetap optimal. AAP menyarankan bayi yang sehat dan cukup bulan untuk menyusu sekitar 8–12 kali sehari pada beberapa hari pertama.
Jika bayi sulit menyusu, berat badan turun berlebihan, atau terdapat tanda dehidrasi, dokter dapat mengevaluasi apakah diperlukan strategi pemberian nutrisi tambahan.
2. Fototerapi
Jika kadar bilirubin mencapai ambang terapi yang ditentukan dokter, bayi dapat menjalani fototerapi.
Dalam terapi ini, bayi mendapatkan paparan cahaya dengan spektrum tertentu yang membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh.
Fototerapi merupakan salah satu terapi utama untuk hiperbilirubinemia neonatal yang membutuhkan penanganan. Efektivitasnya bergantung pada intensitas cahaya dan luas permukaan tubuh bayi yang mendapatkan paparan.
Yang perlu dipahami, tidak semua bayi kuning membutuhkan fototerapi. Terapi diberikan berdasarkan kadar bilirubin dan faktor klinis bayi.
3. Penanganan Dehidrasi Bila Diperlukan
Jika bayi mengalami dehidrasi atau asupannya tidak mencukupi, dokter akan menentukan strategi pemberian cairan atau nutrisi sesuai penyebab dan kondisi bayi.
Pemberian cairan melalui infus bukan terapi rutin untuk semua bayi kuning.
4. Transfusi Tukar pada Kondisi Berat
Pada hiperbilirubinemia yang sangat berat atau ketika terdapat tanda ensefalopati bilirubin akut, dokter dapat mempertimbangkan exchange transfusion atau transfusi tukar.
Tindakan ini dilakukan di fasilitas kesehatan dengan kemampuan neonatal yang memadai dan merupakan terapi untuk kondisi berat.
5. Mengatasi Penyebabnya
Jika peningkatan bilirubin disebabkan oleh hemolisis, infeksi, atau gangguan hati dan saluran empedu, maka penyebab tersebut juga harus ditangani.
Menurunkan angka bilirubin tanpa mencari penyebabnya tidak selalu menyelesaikan masalah.
Bolehkah Bayi Kuning Dijemur di Bawah Sinar Matahari?
Menjemur bayi di bawah sinar matahari masih menjadi praktik yang cukup sering dilakukan di masyarakat.
Namun, sinar matahari tidak dapat menggantikan fototerapi medis.
AAP menyatakan bahwa meskipun sinar matahari dapat menurunkan kadar bilirubin, paparan sinar matahari sulit dikontrol dengan aman dan memiliki risiko seperti paparan panas serta kulit terbakar. Karena itu, sinar matahari tidak direkomendasikan sebagai terapi yang dapat diandalkan untuk hiperbilirubinemia.
Jika bayi membutuhkan fototerapi, gunakan terapi yang memang dirancang dan dipantau untuk tujuan tersebut sesuai rekomendasi tenaga medis.
Apakah Bayi Kuning Harus Berhenti Menyusu?
Tidak selalu.
Pada sebagian besar bayi, pemberian ASI tetap perlu dilanjutkan. Justru, memastikan bayi mendapatkan asupan yang cukup merupakan bagian penting dalam membantu proses eliminasi bilirubin.
Namun, kondisi setiap bayi berbeda. Jika bayi sulit menyusu, mengalami dehidrasi, berat badan turun berlebihan, atau memiliki kondisi medis tertentu, dokter dapat menentukan apakah diperlukan strategi nutrisi tambahan.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menghentikan ASI sendiri hanya karena bayi mengalami jaundice.
Apakah Semua Bayi Kuning Harus Diperiksa Bilirubinnya?
Bayi baru lahir perlu mendapatkan pemantauan untuk risiko hiperbilirubinemia. AAP merekomendasikan pengukuran bilirubin selama periode kelahiran sebelum pulang, kemudian menentukan tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi bayi.
Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila bayi memiliki faktor risiko, termasuk lahir prematur, kuning pada 24 jam pertama, adanya dugaan hemolisis, atau memiliki riwayat saudara kandung yang pernah membutuhkan fototerapi atau transfusi tukar.
Jadi, tidak perlu menunggu sampai warna kuning terlihat sangat pekat untuk memeriksakan bayi.
Jangan Menentukan Bahaya Bilirubin Hanya dari Warna Kulit
Ini adalah salah satu hal penting yang perlu diketahui orang tua.
Dua bayi sama-sama terlihat kuning belum tentu memiliki kadar bilirubin yang sama. Sebaliknya, bayi dengan kadar bilirubin yang perlu dipantau juga tidak selalu terlihat sangat kuning.
Karena keputusan terapi ditentukan berdasarkan kadar bilirubin, usia bayi dalam jam, usia kehamilan, dan faktor risiko, orang tua sebaiknya tidak mencoba memperkirakan tingkat bahaya hanya dari warna kulit.
Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?
Segera konsultasikan bayi jika muncul kondisi berikut:
Jangan ditunda jika:
- Bayi kuning sebelum usia 24 jam.
- Bayi sulit dibangunkan atau sangat lemas.
- Bayi tidak mau atau sulit menyusu.
- Warna kuning bertambah pekat dengan cepat.
- Bayi menunjukkan gerakan atau perilaku yang tidak biasa.
- Urine tampak gelap.
- Tinja tampak sangat pucat.
- Orang tua merasa kondisi bayi memburuk.
Pada kondisi dengan tanda neurologis seperti bayi sangat lemas, perubahan tonus otot, tangisan bernada tinggi, atau gerakan tubuh yang tidak normal, bayi membutuhkan evaluasi medis segera karena dapat menjadi tanda komplikasi serius akibat kadar bilirubin yang tinggi.
Kesimpulan: Bukan Sekadar “Bayi Kuning”
Bilirubin merupakan bagian alami dari proses pemecahan sel darah merah. Karena organ hati bayi masih dalam tahap pematangan, peningkatan bilirubin pada hari-hari pertama kehidupan cukup sering terjadi.
Namun, bayi kuning tidak selalu berarti kondisi yang aman untuk ditunggu di rumah.
Yang menentukan apakah bayi membutuhkan terapi bukan sekadar warna kulit, tetapi hasil pemeriksaan bilirubin yang dikaitkan dengan usia bayi dalam jam, usia kehamilan, dan faktor risiko lainnya.
Jika kadar bilirubin masih berada di bawah ambang terapi, dokter mungkin cukup melakukan pemantauan dan memastikan asupan bayi optimal. Jika kadar bilirubin sudah mencapai ambang terapi, fototerapi dapat menjadi pilihan. Pada kondisi yang sangat berat, penanganan lebih lanjut seperti transfusi tukar dapat diperlukan.
Karena itu, daripada mencari “cara menurunkan bilirubin dengan cepat”, langkah yang lebih aman adalah memastikan penyebab dan kadar bilirubin bayi melalui pemeriksaan medis.
Bayi Kuning? Jangan Hanya Menunggu
Kuning pada bayi memang sering terjadi, tetapi orang tua tetap perlu mengetahui kapan kondisi tersebut membutuhkan perhatian.
Jika bayi Anda tampak kuning, mengalami kesulitan menyusu, atau memiliki tanda-tanda yang mengkhawatirkan, konsultasikan kondisinya dengan dokter anak. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu menentukan apakah bayi cukup dipantau atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.
KMNC (Kosambi Maternal and Children) menyediakan layanan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan anak untuk membantu orang tua memahami kondisi si kecil dan menentukan langkah yang tepat.
Untuk informasi layanan dan jadwal konsultasi, hubungi Bumin KMNC di 0811-1028-232 atau kunjungi website KMNC.
Jangan menunggu warna kuning semakin pekat. Pastikan kondisi si kecil melalui pemeriksaan yang tepat.
