Apakah Ibu pernah melihat anak sering pegang kelamin? lalu harus bagaimana untuk menanganinya? Nah, ini sebenarnya bagian dari tahap perkembangan anak menurut teori psikoseksual Sigmund Freud. Menurut Freud, perjalanan kepribadian anak terjadi dalam 5 fase psikoseksual, yaitu Fase Oral, Fase Anal, Fase Phallic, Fase Latensi, dan Fase Genital.
Lalu kebiasaan anak sering memegang kelamin berada di fase mana sih? Umumnya ini terjadi pada anak usia 3-6 tahun, dimana anak suka mengeksplorasi tubuh mereka sendiri sebagai bagian dari proses belajar. Sesuai dengan range umur menunjukkan bahwa anak sedang ada di Fase Phallic. Fase ini sering kali menjadi sumber kekhawatiran orang tua. Yuk, kita bahas selengkapnya tentang fase psikoseksual, terutama Fase Phallic ini!
Tahap Perkembangan Psikoseksual Menurut Sigmund Freud
| No | Fase | Range Usia | Ciri-ciri Umum |
| 1 | Fase Oral | 0 – 1 tahun | Sumber fokus anak: Mulut
Anak akan memainkan mulut dengan jari bahkan memasukkan segala jenis benda ke dalam mulut |
| 2 | Fase Anal | 1 – 3 tahun | Sumber fokus anak: Anus
Anak sudah tau dan mengerti kapan akan buang air besar, fase ini bergantung pada cara didik orang tua dalam melakukan pendekatan toilet training |
| 3 | Fase Phallic | 3 – 6 tahun | Sumber fokus anak: Alat kelamin
Anak memiliki ketertarikan yang tinggi dan merasa sensasi seksual untuk pertama kalinya, biasanya ditandai dengan memainkan alat kelamin dan muncul ketertarikan terhadap lawan jenisnya |
| 4 | Fase Laten | 7 tahun – Masa Pubertas | Sumber fokus: Hubungan sosial
Dorongan seksual akan ditekan pada fase ini (libido tidak aktif) sehingga anak cenderung lebih relatif tenang. Di usia ini, sangat penting anak mengembangkan keterampilan sosial, komunikasi, serta kepercayaan diri terhadap lingkungannya, seperti keluarga dan teman sebaya |
| 5 | Fase Genital | Pubertas – Dewasa | Sumber fokus: Kematangan organ reproduksi
Libido aktif kembali sehingga meningkatkan ketertarikan seksual, anak mulai mengeksplorasi perasaan dan hasrat seksual secara lebih matang dan bertanggung jawab |
Apa itu Fase Phallic?
Dalam perkembangan anak menurut Sigmund Freud, pada fase phallic anak-anak mulai tertarik dan memperhatikan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Mereka mulai menyadari bahwa ada hal spesifik yang membedakan kedua jenis kelamin dan bisa berujung pada rasa ingin tahu tentang bagian tubuh mereka termasuk alat kelamin.
Di fase phallic, anak-anak juga mulai merasakan kedekatan emosional yang kuat dengan orang tuanya. Ada 2 istilah yang digunakan untuk menunjukkan interaksi dan dinamika hubungan orang tua dengan anak di fase ini, yaitu:
1. Kompleks Oedipus
Menggambarkan perasaan anak laki-laki yang merasa dekat dengan ibunya. Pada saat yang sama, mereka dapat merasakan cemburu dan muncul persaingan terhadap ayahnya karena dianggap lawan untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang ibu.
2. Kompleks Electra
Sebaliknya, menggambarkan perasaan anak perempuan yang merasa dekat dengan ayahnya dan merasakan cemburu terhadap ibunya karena dianggap sebagai pesaing dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang ayah.
Kedua istilah ini menunjukkan bahwa pentingnya pengertian tentang hubungan keluarga karena dapat membentuk berbagai aspek dari kepribadian dan relasi anak di masa dewasa.
Kenapa Anak Sering Pegang Alat Kelamin?
Dalam fase phallic, keingintahuan anak sangat tinggi, jadi ada kemungkinan anak ingin menjelajahi tubuh mereka, termasuk alat kelamin. Tindakan ini bukan berhubungan dengan perilaku seksual, tetapi lebih kepada eksplorasi dan pemahaman diri. Anak-anak bisa jadi merasa nyaman saat melakukannya dan itu adalah hal wajar selama fase perkembangan anak.
Pada fase ini adalah bagian dari pembelajaran anak tentang identitas diri dan hubungan interpersonal. Cara orang tua bereaksi dan menjelaskan perilaku ini dapat mempengaruhi cara anak melihat hubungan dan batasan di masa depan. Jika anak mendapatkan penjelasan yang baik dan pemahaman tentang hal-hal ini, mereka akan lebih siap saat memasuki fase perkembangan selanjutnya.
Tips Menghadapi Fase Phallic
Kondisi anak sering memegang alat kelamin pada fase phallic merupakan hal umum. Terdapat beberapa langkah yang dapat diambil untuk menangani situasi ini dengan bijak, diantaranya:
1. Mengerti dan menerima kondisi perkembangan anak
Tunjukkan reaksi ayah dan ibu dengan tenang, jangan panik, atau marah karena hal ini dapat membuat anak merasa malu atau bingung dengan hasil eksplorasi mereka. Berikan dukungan emosional dan pengertian yang positif dan mendidik melalui informasi yang sesuai dengan usia mereka. Alih-alih langsung melarang, tanyakan kepada anak dengan lembut, “Apa yang sedang kamu lakukan?” atau “Apakah kamu penasaran tentang tubuhmu?” Ini dapat membantu anak merasa didengar dan dihargai.
2. Ajarkan anak tentang pentingnya batasan dan privasi
Biasakan untuk mengajarkan anak tentang pentingnya batasan dan privasi dengan penjelasan yang mudah dipahami. Ayah dan ibu dapat membantu anak memahami bahwa tubuhnya adalah hal pribadi yang harus dijaga dan beritahu tentang batasan seseorang dalam menyentuh anak secara jelas dan konsisten. Saat berbicara tentang kebiasaan sehari-hari seperti buang air atau mandi, sampaikan bahwa itu dilakukan di tempat yang privat, sehingga anak belajar menghargai batasan dirinya dan orang lain.
3. Mengalihkan perhatian dengan aktivitas lain yang lebih menarik
Anak cenderung melakukan perilaku kurang diinginkan (memegang alat kelamin) saat merasa bosan atau cemas. Berikan pujian atas perilaku baik mereka karena akan mendorong untuk terus melakukan hal-hal yang tepat dan memberikan rasa percaya diri.
4. Mengajarkan anak tentang kebersihan
Mengajarkan anak tentang kebersihan, seperti pentingnya mencuci tangan setelah menggunakan toilet, menjelaskan manfaat menjaga kebersihan untuk mencegah penyakit. Selain itu, berikan contoh konkret cara membasuh area kelamin dengan benar agar anak tahu bagaimana menjaga kebersihan dirinya.
5. Menghindari kekerasan dalam mendidik
Menghindari kekerasan dalam mendidik seperti memukul, menegur anak dengan kasar, atau menghakimi mereka. Sebaliknya, berikanlah konsekuensi atas perilaku yang tidak diinginkan secara tepat dan konsisten sehingga anak lebih memungkinkan untuk belajar dari kesalahan dan mengembangkan perilaku yang lebih baik.
6. Konsultasikan dengan profesional
Jika perilaku anak terus berlanjut atau merasa ada yang janggal selama pemantauan, segera konsultasi dengan profesional, seperti psikolog anak. Hal ini dapat menjadi langkah yang bijak untuk mendapatkan pandangan dan saran yang lebih tepat.
Dengan pendekatan yang bijaksana dan penuh pengertian, Ibu dapat membantu anak melalui fase ini dengan cara yang positif dan mendukung perkembangan sehat mereka.
Jika Ibu merasa anak mengalami kendala dalam tumbuh kembangnya, jangan ragu untuk segera melakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak di KMNC. Kami siap membantu memberikan solusi dan dukungan terbaik untuk memastikan perkembangan optimal. Hubungi Bumin (+62 811-1028-232) untuk informasi harga layanan dan pendaftaran.
Referensi:
- Mcleod, S., 2024. Freud’s Psychosexual Theory and 5 Stages of Human Development. Available at: (https://www.simplypsychology.org/psychosexual.html)
- Lestari, I., 2019. Konsep Dasar Perkembangan Manusia. Erzatama Karya Abadi: ISBN 978-602-6976-39-0. Available at: (https://www.researchgate.net/publication/335326261_KONSEP_DASAR_PERKEMBANGAN_MANUSIA)
- Sprouts, 2020. Freud’s 5 Stages of Psychosexual Development. Available at: https://www.youtube.com/watch?v=mhG-twzaE_g&t=415s
