Kesehatan Anak

Mitos atau Fakta: Sunat Bisa Mempercepat Pertumbuhan Anak? Cek Penjelasan Medisnya!

Banyak orang tua percaya bahwa setelah disunat, anak laki-laki akan lebih cepat tinggi, berat badannya bertambah, dan terlihat lebih “bongsor”. Tak sedikit pula yang sengaja menjadwalkan sunat saat libur sekolah dengan harapan masa pemulihan menjadi awal dari lonjakan pertumbuhan anak. Namun, benarkah anggapan tersebut didukung oleh bukti medis, atau hanya mitos yang berkembang di masyarakat? Berikut penjelasan lengkapnya.

Benarkah Sunat Membuat Anak Cepat Tinggi?

Di Indonesia, sunat atau sirkumsisi bukan hanya menjadi bagian dari tradisi dan kewajiban agama, tetapi juga sering dikaitkan dengan berbagai anggapan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu yang paling populer adalah keyakinan bahwa anak akan tumbuh lebih tinggi setelah menjalani sunat.

Mungkin Ayah dan Bunda pernah mendengar cerita seperti, “Lihat, habis sunat badannya langsung tinggi,” atau “Makanya cepat disunat supaya cepat besar.”

Tidak sedikit orang tua yang mempercayai hal tersebut. Bahkan, ada yang menganggap sunat sebagai salah satu cara untuk membantu mengoptimalkan pertumbuhan anak.

Namun, jika ditinjau dari sudut pandang medis, benarkah prosedur sunat dapat mempengaruhi hormon pertumbuhan atau mempercepat tinggi badan anak?

Jawabannya adalah tidak.

Hingga saat ini, belum ada penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa tindakan sunat memiliki hubungan langsung dengan peningkatan tinggi badan maupun percepatan pertumbuhan fisik anak. Meski demikian, bukan berarti anggapan tersebut muncul tanpa alasan. Ada beberapa faktor biologis yang membuat anak tampak mengalami perubahan setelah disunat.

Apa Itu Sunat atau Sirkumsisi?

Sunat atau sirkumsisi (circumcision) merupakan prosedur medis untuk mengangkat sebagian atau seluruh kulit yang menutupi kepala penis (kulup atau preputium).

Prosedur ini telah dilakukan selama ribuan tahun di berbagai negara karena alasan agama, budaya, maupun kesehatan.

Di Indonesia sendiri, sunat menjadi salah satu prosedur yang umum dilakukan pada anak laki-laki, baik saat masih bayi maupun ketika memasuki usia sekolah.

Selain karena tradisi, sunat juga direkomendasikan pada beberapa kondisi medis, misalnya:

  • Fimosis (kulup tidak dapat ditarik ke belakang).
  • Parafimosis.
  • Infeksi berulang pada kepala penis (balanitis).
  • Infeksi saluran kemih berulang akibat gangguan pada kulup.

Saat ini, perkembangan teknologi juga membuat prosedur sunat menjadi lebih nyaman dengan berbagai metode modern yang minim perdarahan dan memiliki waktu pemulihan yang relatif lebih cepat.

Manfaat Sunat yang Sudah Terbukti Secara Medis

Berbeda dengan anggapan bahwa sunat membuat anak cepat tinggi, manfaat sunat berikut ini telah didukung oleh berbagai penelitian medis.

1. Menjaga Kebersihan Organ Intim

Kulup yang masih menutupi kepala penis dapat menjadi tempat menumpuknya smegma, yaitu campuran sel kulit mati, minyak, dan kelembapan.

Apabila tidak dibersihkan dengan baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko iritasi maupun infeksi.

Dengan sunat, proses membersihkan area penis menjadi lebih mudah sehingga kebersihan organ reproduksi dapat terjaga dengan lebih optimal.

2. Menurunkan Risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi laki-laki yang disunat memiliki risiko lebih rendah mengalami infeksi saluran kemih dibandingkan yang tidak disunat.

Meskipun ISK pada anak tergolong tidak terlalu sering terjadi, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena apabila berulang dapat mempengaruhi kesehatan ginjal.

3. Mencegah Fimosis

Fimosis merupakan kondisi ketika kulup tidak dapat ditarik ke belakang sehingga menyebabkan rasa nyeri saat buang air kecil maupun ketika penis mengalami ereksi.

Sunat menjadi salah satu terapi definitif untuk mengatasi kondisi ini.

4. Mengurangi Risiko Peradangan pada Penis

Sunat juga terbukti dapat mengurangi risiko:

  • Balanitis (radang kepala penis).
  • Balanopostitis (radang kepala penis dan kulup).

Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan nyeri, bengkak, hingga keluarnya cairan dari penis.

5. Menurunkan Risiko Penyakit Tertentu Saat Dewasa

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sunat dapat membantu menurunkan risiko beberapa penyakit pada usia dewasa, seperti:

  • Kanker penis.
  • Infeksi Human Papillomavirus (HPV).
  • Penularan beberapa infeksi menular seksual (IMS), meskipun tetap tidak menggantikan praktik seks yang aman.

Karena itulah, banyak organisasi kesehatan dunia menyebutkan bahwa manfaat sunat lebih besar dibandingkan risikonya apabila dilakukan dengan prosedur yang benar.

Lalu, Mengapa Anak Terlihat Lebih Tinggi Setelah Sunat?

Inilah yang sering membuat masyarakat salah memahami hubungan antara sunat dan pertumbuhan.

Faktanya, ada beberapa alasan mengapa anak tampak mengalami perubahan fisik setelah menjalani sunat.

1. Bertepatan dengan Masa Pubertas

Sebagian besar anak laki-laki di Indonesia menjalani sunat pada usia 10–12 tahun, yaitu masa ketika tubuh mulai memasuki pubertas.

Pada periode ini terjadi peningkatan hormon testosteron dan hormon pertumbuhan (growth hormone) yang memicu growth spurt, yaitu fase pertumbuhan tinggi badan yang berlangsung sangat cepat.

Karena waktunya berdekatan, banyak orang mengira sunatlah yang menyebabkan pertumbuhan tersebut.

Padahal, kenaikan tinggi badan terjadi karena proses biologis yang memang sedang berlangsung secara alami.

2. Nafsu Makan Meningkat Selama Masa Pemulihan

Setelah sunat, banyak orang tua memberikan makanan bergizi tinggi agar luka cepat sembuh.

Menu yang kaya protein, seperti telur, ikan, ayam, daging, susu, dan buah-buahan, membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Asupan gizi yang lebih baik ini dapat mendukung pertumbuhan, tetapi bukan karena tindakan sunatnya.

3. Anak Menjadi Lebih Aktif

Pada beberapa anak yang sebelumnya mengalami nyeri akibat fimosis atau infeksi berulang, sunat membuat mereka merasa lebih nyaman saat beraktivitas.

Ketika rasa tidak nyaman hilang, anak menjadi lebih aktif bermain dan berolahraga, yang secara tidak langsung mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Namun, sekali lagi, bukan prosedur sunat yang membuat tinggi badan bertambah, melainkan kombinasi antara usia, nutrisi, aktivitas fisik, dan proses pertumbuhan alami.

Apa yang Sebenarnya Menentukan Tinggi Badan Anak?

Jika sunat bukan penyebab anak menjadi lebih tinggi, lalu apa yang benar-benar berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi badan?

Menurut berbagai penelitian dan pedoman dari World Health Organization (WHO), tinggi badan anak dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, nutrisi, hormon, aktivitas fisik, serta kualitas tidur. Kelima faktor ini memiliki peran yang jauh lebih besar dibandingkan tindakan medis seperti sunat.

1. Faktor Genetik Menjadi Penentu Utama

Genetik atau keturunan merupakan faktor terbesar yang menentukan potensi tinggi badan seseorang. Anak yang memiliki orang tua bertubuh tinggi cenderung memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh tinggi dibandingkan anak dengan riwayat keluarga bertubuh pendek.

Meski demikian, faktor genetik bukan satu-satunya penentu. Potensi tinggi badan tetap perlu didukung oleh pola hidup yang sehat agar pertumbuhan berlangsung optimal.

2. Nutrisi yang Seimbang

Masa pertumbuhan adalah periode ketika tubuh membutuhkan asupan gizi yang lengkap. Kekurangan nutrisi, terutama pada usia emas pertumbuhan, dapat menghambat perkembangan tulang dan otot.

Beberapa zat gizi yang berperan penting dalam pertumbuhan tinggi badan antara lain:

  • Protein sebagai bahan pembentuk jaringan tubuh.
  • Kalsium untuk menjaga kekuatan tulang.
  • Vitamin D yang membantu penyerapan kalsium.
  • Zinc (seng) yang berperan dalam pertumbuhan sel dan jaringan.
  • Zat besi untuk mencegah anemia yang dapat mengganggu tumbuh kembang.

Oleh karena itu, apabila setelah sunat anak mendapatkan makanan yang lebih bergizi dan nafsu makannya meningkat, pertumbuhan tubuhnya tentu akan menjadi lebih baik. Namun, hal tersebut terjadi karena perbaikan asupan nutrisi, bukan karena tindakan sunat itu sendiri.

3. Tidur Berkualitas

Tahukah Ayah dan Bunda bahwa sebagian besar Growth Hormone (GH) atau hormon pertumbuhan diproduksi saat anak tidur?

Produksi hormon ini mencapai puncaknya ketika anak memasuki fase tidur nyenyak (deep sleep). Itulah sebabnya anak yang memiliki waktu tidur cukup sesuai usianya cenderung memiliki pertumbuhan yang lebih optimal.

Sebaliknya, kebiasaan tidur larut malam atau kurang tidur dalam jangka panjang dapat memengaruhi proses pertumbuhan.

4. Aktivitas Fisik dan Olahraga

Anak yang aktif bergerak memiliki kesehatan tulang dan otot yang lebih baik dibandingkan anak yang jarang beraktivitas.

Olahraga seperti:

  • berenang,
  • basket,
  • lompat tali,
  • bersepeda,
  • hingga bermain di luar rumah,

membantu merangsang pembentukan tulang sekaligus menjaga berat badan tetap ideal.

Meskipun olahraga tidak secara langsung “menambah tinggi badan”, aktivitas fisik berperan penting dalam mendukung pertumbuhan yang optimal selama masa kanak-kanak dan remaja.

5. Kondisi Kesehatan Secara Keseluruhan

Anak yang sering mengalami infeksi berulang, kekurangan gizi, atau penyakit kronis berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.

Di sinilah salah satu manfaat tidak langsung dari sunat mulai terlihat.

Sunat dapat membantu menurunkan risiko beberapa infeksi pada organ reproduksi, seperti fimosis, balanitis, maupun infeksi saluran kemih. Dengan kondisi kesehatan yang lebih baik, anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Namun perlu dipahami, manfaat ini bersifat tidak langsung dan bukan berarti sunat menjadi penyebab utama anak bertambah tinggi.

Mitos vs Fakta: Hubungan Sunat dengan Pertumbuhan Anak

Mitos Popular Fakta Medis yang Benar Faktor Penjelas / Penyebab Sebenarnya
“Sunat membuat anak cepat tinggi.” Tidak Benar. Tidak ada bukti ilmiah bahwa tindakan sirkumsisi (sunat) merangsang pemanjangan tulang. Tinggi badan murni dipengaruhi oleh faktor genetik, kecukupan nutrisi, kualitas tidur, dan aktivitas fisik.
“Setelah disunat, anak akan langsung gemuk.” Mitos. Sunat tidak secara langsung menambah berat badan anak. Berat badan naik karena nafsu makan membaik dan asupan nutrisi lebih optimal selama masa pemulihan dan perawatan orang tua.
“Sunat memengaruhi produksi hormon pertumbuhan.” Tidak Benar. Sunat adalah prosedur bedah minor lokal yang tidak mengganggu sistem endokrin. Prosedur sunat sama sekali tidak memengaruhi hormon pertumbuhan (HGH) maupun hormon seksual seperti testosteron.
“Anak yang tidak disunat akan tumbuh lebih pendek.” Mitos. Tidak ada korelasi antara kondisi prepusium (kulup) dengan tinggi badan. Pertumbuhan anak tergantung pada kondisi kesehatan secara keseluruhan, imunisasi, gaya hidup sehat, dan nutrisi harian.

Kapan Waktu Terbaik Anak untuk Sunat?

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan orang tua adalah kapan usia terbaik untuk melakukan sunat.

Sebenarnya, tidak ada satu usia yang dianggap paling ideal untuk semua anak. Keputusan mengenai waktu sunat dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kesiapan anak, serta pertimbangan keluarga.

Secara umum, berikut beberapa pertimbangannya:

Saat Bayi

Sunat pada masa bayi memiliki beberapa keuntungan, seperti proses penyembuhan yang relatif lebih cepat, risiko trauma psikologis yang lebih rendah, serta anak belum banyak bergerak sehingga perawatan luka lebih mudah dilakukan.

Usia Prasekolah hingga Sekolah Dasar

Banyak orang tua memilih melakukan sunat saat anak berusia 5–12 tahun, terutama ketika libur sekolah. Pada usia ini, anak sudah mulai memahami instruksi dokter sehingga proses perawatan setelah sunat dapat berjalan lebih baik.

Jika Ada Indikasi Medis

Apabila anak mengalami fimosis berat, infeksi berulang, atau gangguan lain pada kulup penis, dokter dapat menyarankan sunat dilakukan lebih awal sebagai bagian dari terapi.

Oleh karena itu, waktu terbaik untuk sunat sebaiknya didiskusikan bersama dokter agar disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.

Kesimpulan

Anggapan bahwa sunat membuat anak cepat tinggi merupakan mitos yang hingga kini belum didukung oleh bukti ilmiah. Pertambahan tinggi badan yang sering terlihat setelah sunat lebih banyak disebabkan oleh faktor lain, seperti anak yang memang sedang memasuki masa pubertas (growth spurt), meningkatnya asupan nutrisi selama masa pemulihan, serta kondisi tubuh yang lebih sehat.

Meski tidak berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tinggi badan, sunat tetap memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Prosedur ini dapat membantu menjaga kebersihan organ intim, menurunkan risiko infeksi saluran kemih, mencegah fimosis, serta mengurangi risiko beberapa penyakit pada masa dewasa.

Karena itu, keputusan untuk melakukan sunat sebaiknya didasarkan pada manfaat kesehatan dan rekomendasi dokter, bukan karena harapan agar anak menjadi lebih tinggi.

FAQ Seputar Sunat dan Pertumbuhan Anak

Apakah benar sunat membuat anak cepat tinggi?

Tidak. Hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa sunat dapat mempercepat pertumbuhan tinggi badan anak.

Mengapa banyak anak terlihat lebih tinggi setelah sunat?

Sebagian besar anak disunat pada usia menjelang pubertas, yaitu saat tubuh memang sedang mengalami lonjakan pertumbuhan (growth spurt). Selain itu, nafsu makan yang meningkat selama masa pemulihan juga dapat mendukung pertumbuhan.

Apakah sunat memengaruhi hormon pertumbuhan?

Tidak. Sunat tidak memengaruhi produksi hormon pertumbuhan (growth hormone) maupun hormon testosteron.

Apakah sunat memiliki manfaat bagi kesehatan?

Ya. Sunat dapat membantu menjaga kebersihan organ intim, menurunkan risiko infeksi saluran kemih, mencegah fimosis, serta mengurangi risiko beberapa penyakit pada masa dewasa.

Berapa usia terbaik untuk sunat?

Sunat dapat dilakukan sejak bayi hingga usia sekolah, bahkan saat dewasa. Waktu terbaik bergantung pada kondisi kesehatan anak, kesiapan keluarga, dan rekomendasi dokter.

Dukung Kesehatan Si Kecil dengan Layanan Sunat Modern di KMNC

Sunat bukan sekadar tradisi, tetapi juga merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan organ reproduksi anak sejak dini. Agar prosedur berjalan aman dan nyaman, pastikan sunat dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman dengan metode yang sesuai dengan kondisi anak.

Di KMNC (Kosambi Maternal and Children), layanan sunat dilakukan oleh dokter yang kompeten dengan dukungan metode sunat modern yang mengutamakan keamanan, kenyamanan, serta proses pemulihan yang optimal. Sebelum tindakan, orang tua juga akan mendapatkan konsultasi menyeluruh mengenai kondisi anak, pilihan metode sunat, hingga edukasi perawatan luka di rumah.

Segera lakukan konsultasi dan jadwalkan appointment melalui WhatsApp atau kunjungi website resmi KMNC di kmnc.co.id untuk informasi layanan dan promo terbaru lainnya.


dr. Hanna Khairat, Sp.A

dr.Hanna Khairat,Sp.A adalah dokter spesialis anak di KMNC Graha Raya dan BSD. Sebagai dokter anak, dr.Hanna Khairat,Sp.A percaya bahwa setiap anak memiliki ritme tumbuh kembangnya sendiri.Ia selalu berupaya menciptakan suasana konsultasi yang nyaman bagi anak dan orang tua, sambil memberikan edukasi yang mudah dipahami seputar imunisasi, nutrisi, serta tumbuh kembang anak.Pendekatan yang sabar dan komunikatif menjadikan dr. Hanna sosok dokter yang dipercaya banyak keluarga.

dr. Hanna Khairat, Sp.A adalah dokter spesialis anak yang berpengalaman dalam menangani kesehatan bayi, balita, dan anak secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang ramah, sabar, dan komunikatif, dr. Hanna berkomitmen memberikan pelayanan medis yang aman, nyaman, serta edukatif bagi anak dan orang tua.

Beliau fokus mendampingi tumbuh kembang anak sejak usia dini, membantu pencegahan dan penanganan berbagai masalah kesehatan anak, serta memberikan edukasi yang mudah dipahami agar orang tua merasa lebih tenang dan percaya diri dalam merawat buah hati.

Educational Background:
1. Exchange Program, Department of Orthopedics, Santa Maria
Della Misericordia Hospital, Perugia,
Italy. (2013)
2. Medical Doctor, Andalas University (2014)
3. Pediatric Residency, University of Indonesia (2023)

Keahlian & Layanan Medis
1. Konsultasi kesehatan bayi, balita, dan anak
2. Pemantauan tumbuh kembang anak
3. Imunisasi anak sesuai jadwal
4. Penanganan penyakit umum pada anak
5. Konsultasi nutrisi dan status gizi anak
6. Edukasi kesehatan anak dan parenting
7. Pemeriksaan kesehatan anak rutin
8. Konsultasi tindak lanjut pasca sakit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from - Youtube
Vimeo
Consent to display content from - Vimeo
Google Maps
Consent to display content from - Google
Spotify
Consent to display content from - Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from - Sound