Poliomielitis atau polio adalah penyakit menular serius yang disebabkan oleh virus polio, anggota dari genus Enterovirus dalam keluarga Picornaviridae. Virus ini masuk ke tubuh melalui mulut, sering kali melalui makanan atau air yang terkontaminasi oleh feses penderita. Penularan juga bisa terjadi melalui sekret tenggorokan seperti air liur atau bersin dari orang yang terinfeksi.
Polio terutama menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Virus ini menyerang sistem saraf pusat dan bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Sebagian besar kasus (90-95%) memiliki gejala ringan, namun ada juga yang berkembang menjadi polio paralitik yang ditandai dengan kelumpuhan mendadak tanpa gangguan sensorik atau kognitif.
Karena belum ada obat untuk polio, vaksinasi merupakan satu-satunya cara pencegahan yang efektif.
Dampak dan Upaya Global Eradikasi Polio
Vaksin polio telah terbukti sangat efektif sejak pengenalannya pada tahun 1950-an. Program imunisasi massal berhasil menurunkan kasus polio global lebih dari 99%. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai negara telah mencanangkan program eradikasi polio melalui kampanye vaksinasi global.
Empat wilayah WHO, termasuk Asia Tenggara (yang mencakup Indonesia), dinyatakan bebas polio liar sejak 2014. Namun, polio liar tipe 1 masih ditemukan di Afganistan dan Pakistan.
Di Indonesia, Program Pengembangan Imunisasi (PPI) telah dijalankan sejak 1980 untuk mengeliminasi polio. Namun, tantangan tetap ada, termasuk:
- Ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin.
- Keterbatasan akses dan sumber daya.
- Kurangnya kesadaran orang tua.
Oleh karena itu, pemerintah meluncurkan Sub PIN Polio untuk menanggulangi wabah dan meningkatkan cakupan imunisasi.
Jenis-Jenis Vaksin Polio
Saat ini, terdapat dua jenis utama vaksin polio:
- Oral Poliovirus Vaccine (OPV)
- Dikenal sebagai vaksin Sabin.
- Vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated).
- Tersedia dalam bentuk bivalen (bOPV) untuk melindungi dari virus tipe 1 dan 3.
- Diberikan secara oral (tetes ke mulut).
- Menimbulkan kekebalan mukosa dan herd immunity.
- Relatif lebih murah.
- Risiko: mutasi virus yang dapat menyebabkan kejadian polio setelah vaksinasi (VAPP) atau wabah (cVDPV).
- Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)
- Dikenal sebagai vaksin Salk.
- Vaksin virus mati (inaktif).
- Mengandung virus tipe 1, 2, dan 3.
- Diberikan melalui suntikan (intramuskular).
- Sangat efektif mencegah kelumpuhan dengan meningkatkan imunitas sistemik (IgG).
- Aman untuk pasien dengan imunodefisiensi.
- Kurang efektif dalam membentuk kekebalan mukosa dibanding OPV.
- Harga lebih mahal.
WHO merekomendasikan semua negara mengintegrasikan minimal satu dosis IPV ke dalam program imunisasi nasional.
Manfaat Vaksinasi Polio
Vaksin polio memiliki peran vital untuk:
- Mencegah infeksi virus polio.
- Melindungi dari kelumpuhan permanen.
- Mencegah kematian akibat komplikasi polio.
- Mendukung eradikasi global polio.
- Membangun imunitas jangka panjang pada anak-anak.
Selain itu, vaksinasi juga berkontribusi terhadap perlindungan komunitas secara luas melalui terciptanya kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga virus polio sulit menyebar di tengah populasi. Dengan memberikan vaksinasi sejak dini, tubuh anak dapat mengenali dan melawan virus jika suatu saat terpapar, tanpa perlu mengalami infeksi yang berisiko. Ini sangat penting karena polio bisa menyebabkan cacat permanen bahkan kematian, terutama jika menyerang otot pernapasan.
Dengan cakupan vaksinasi yang tinggi, suatu negara dapat mempertahankan status bebas polio dan mencegah munculnya kembali wabah di masa depan. Oleh karena itu, manfaat vaksin polio tidak hanya bersifat individual, tetapi juga menyangkut keamanan kesehatan masyarakat secara global.
Jadwal Anjuran Vaksin Polio
Berdasarkan panduan dari Klinik Medis Nusantara Center (KMNC), berikut adalah jadwal vaksin polio:
| Usia Anak | Jenis Vaksin | Cara Pemberian |
| Lahir – 1 bulan | Polio 0 (Oral) | Tetes mulut |
| 2 bulan | Polio 1 (Oral) | Tetes mulut |
| 3 bulan | Polio 2 (Oral) | Tetes mulut |
| 4 bulan | Polio 3 (Suntik) | Injeksi |
| 9 bulan | Polio 3 (Suntik) | Injeksi |
| 18 bulan | Polio 4 (Booster Oral) | Tetes mulut |
Jika anak terlambat menerima vaksin, imunisasi tetap bisa dilanjutkan tanpa perlu mengulang dari awal.
Siapa yang Tidak Dianjurkan Mendapatkan Vaksin?
Kontraindikasi vaksin polio meliputi:
- Anak dengan reaksi alergi berat terhadap vaksin sebelumnya.
- Anak yang sedang mengalami infeksi akut.
- Anak yang sedang menjalani pengobatan imunosupresan.
Vaksin memang penting, namun tidak semua anak dapat menerimanya dalam kondisi tertentu. Anak yang sedang mengalami infeksi akut mungkin memiliki sistem kekebalan yang belum optimal, sehingga respon terhadap vaksin bisa tidak maksimal atau bahkan menimbulkan efek samping yang lebih besar. Sementara itu, anak yang sedang menjalani pengobatan imunosupresan atau memiliki kondisi imunodefisiensi mungkin tidak dapat membentuk kekebalan dengan baik setelah vaksinasi.
Reaksi alergi berat seperti anafilaksis terhadap komponen vaksin sebelumnya juga menjadi alasan kuat untuk tidak melanjutkan vaksin yang sama, karena berisiko membahayakan nyawa.
Oleh karena itu, selalu penting untuk berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum memberikan vaksin, terutama jika anak memiliki riwayat medis khusus, sedang dalam pengobatan, atau sedang tidak sehat. Tenaga medis akan menilai apakah anak dapat divaksinasi sesuai jadwal, perlu ditunda, atau harus mendapatkan pengawasan khusus.
Perbedaan OPV dan IPV
| Aspek | OPV (Oral) | IPV (Suntik) |
| Komposisi | Virus hidup dilemahkan | Virus mati (inaktif) |
| Cara Pemberian | Tetes mulut | Suntikan otot |
| Perlindungan | Tipe 1 & 3 | Tipe 1, 2, & 3 |
| Imunitas Mukosa | Kuat | Lemah |
| Harga | Lebih murah | Lebih mahal |
| Risiko Mutasi | Ada (VAPP, cVDPV) | Tidak ada |
Harga Vaksin Polio
Berdasarkan informasi dari KMNC, berikut adalah harga vaksin:
- Vaksin Polio Injeksi (IPV): Rp 325.000 per dosis.
- Vaksin Polio Oral (OPV): Rp 155.000 per dosis.
Harga bisa berbeda tergantung lokasi dan fasilitas kesehatan.
Kesimpulan dan Imbauan
Polio merupakan penyakit menular berbahaya yang bisa menyebabkan kelumpuhan seumur hidup. Karena belum ada pengobatan, vaksinasi adalah satu-satunya cara melindungi anak-anak dari penyakit ini. Indonesia telah mencapai banyak kemajuan dalam eradikasi polio, namun tantangan tetap ada.
Vaksin polio tersedia dalam dua bentuk utama, yaitu OPV dan IPV, dengan jadwal pemberian yang disesuaikan usia. Kedua jenis vaksin memiliki manfaat dan peran penting dalam menciptakan imunitas masyarakat.
Orang tua sangat disarankan untuk:
- Memberikan vaksin lengkap sesuai jadwal.
- Tidak menunda imunisasi meskipun anak terlambat.
- Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ragu.
Dengan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat, kita bisa menjaga Indonesia tetap bebas polio dan melindungi masa depan generasi penerus bangsa.
Dapatkan informasi lengkap mengenai panduan jadwal vaksin dan pemeriksaan tumbuh kembang anak di sini. Vaksin merupakan hak anak yang wajib kita sebagai orang tua penuhi. Daftarkan anak untuk vaksin di KMNC sekarang, hubungi Bumin (+62 811-1028-232) untuk informasi harga layanan dan pendaftaran.
Referensi:
- Andika, Kenty., & Amalia, Dika. (2024). Polio, Eradikasi, dan Vaksinasi. Jurnal Medika Nusantara, 2(3). 34-42
- Yuntarisa, Atika Pradana., dkk. (2024). Optimalisasi Pencegahan Polio Melalui Program Imunisasi Polio Di Posyandu Desa Kampung Kandang Kota Pariaman. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 2(6). 2129-2134
- dr. Yoviena Kusuma Dewi, CLC., dkk. Catatan Si Kecil untuk Ibu. Jakarta: KMNC
