pregnancy

Keputihan Saat Hamil Normal atau Berbahaya? Kenali Ciri-Ciri dan Tanda Bahayanya

Jakarta – Keputihan yang semakin banyak selama kehamilan sering membuat calon ibu khawatir. Sebagian bertanya-tanya apakah kondisi tersebut merupakan perubahan normal akibat hormon kehamilan atau justru tanda infeksi yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan janin.

Menurut National Health Service (NHS) Inggris, peningkatan cairan vagina merupakan hal yang umum selama kehamilan. Keputihan normal biasanya berwarna bening atau putih susu, bertekstur encer, serta tidak memiliki bau yang tidak sedap.

Namun, ibu hamil perlu lebih waspada apabila keputihan berubah warna, berbau menyengat, atau disertai rasa gatal dan nyeri. Terlebih jika cairan keluar terus-menerus seperti air, karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda kebocoran air ketuban yang membutuhkan pemeriksaan segera.

Keputihan saat hamil umumnya normal apabila berwarna bening atau putih susu, tidak berbau menyengat, dan tidak disertai gatal maupun nyeri. Sebaliknya, keputihan yang berubah warna, berbau tidak sedap, atau disertai keluhan lain perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.

Lantas, bagaimana cara membedakan keputihan normal dan tidak normal saat hamil? Apa saja penyebabnya, dan kapan ibu harus segera memeriksakan diri ke dokter?

Apa Itu Keputihan pada Ibu Hamil?

Keputihan adalah cairan atau lendir yang secara alami keluar dari vagina. Cairan ini membantu menjaga kelembaban dan mendukung mekanisme perlindungan alami organ reproduksi perempuan.

Selama kehamilan, tubuh mengalami berbagai perubahan hormonal, termasuk peningkatan hormon estrogen dan aliran darah ke area panggul. Perubahan tersebut dapat menyebabkan produksi cairan vagina meningkat.

Kondisi ini dikenal sebagai leukorea fisiologis, yaitu keputihan normal yang terjadi akibat perubahan alami tubuh.

Menurut NHS, jumlah keputihan umumnya meningkat selama kehamilan dan dapat menjadi lebih banyak menjelang persalinan.

Pada akhir kehamilan, sebagian ibu juga dapat mengeluarkan lendir kental menyerupai jeli, terkadang berwarna merah muda. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan keluarnya sumbat lendir serviks atau mucus plug sebagai salah satu tanda tubuh sedang mempersiapkan persalinan.

Meski demikian, tidak semua cairan yang keluar dari vagina merupakan keputihan biasa. Cairan yang sangat encer dan terus merembes perlu mendapatkan perhatian karena dapat menandakan kebocoran air ketuban.

Ciri-Ciri Keputihan Normal dan Tidak Normal Saat Hamil

Mengenali karakteristik keputihan dapat membantu ibu memahami perubahan tubuh selama kehamilan.

Namun, penting diketahui bahwa warna, bau, dan tekstur cairan saja tidak selalu cukup untuk menentukan penyebabnya. Beberapa kondisi memiliki gejala yang serupa sehingga pemeriksaan medis mungkin diperlukan.

Berikut perbedaan keputihan normal dan keputihan yang perlu diwaspadai.

Ciri-Ciri Keputihan Normal Keputihan yang Perlu Diperiksa
Warna Bening atau putih susu Kuning, hijau, atau keabu-abuan
Bau Tidak berbau menyengat Bau amis kuat atau tidak sedap
Tekstur Encer atau sedikit licin Menggumpal disertai gatal atau berubah tidak biasa
Keluhan Tidak disertai gatal atau nyeri Gatal, perih, iritasi, atau nyeri
Jumlah Dapat meningkat selama kehamilan Cairan seperti air yang terus merembes perlu diperiksa segera

Tabel ini merupakan panduan mengenali gejala, bukan alat diagnosis. Cairan yang dicurigai sebagai air ketuban harus segera diperiksa meskipun tidak berbau atau tidak disertai nyeri.

1. Keputihan Normal Saat Hamil

Keputihan normal umumnya berwarna bening atau putih susu, memiliki tekstur encer, dan tidak menimbulkan bau menyengat.

Jumlahnya dapat meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan, terutama menjelang persalinan.

Selama tidak disertai rasa gatal, perih, nyeri, atau gejala lain yang mengganggu, kondisi ini umumnya tidak membutuhkan pengobatan khusus.

Ibu hamil juga tidak perlu menggunakan produk pembersih vagina untuk menghilangkan keputihan normal.

2. Keputihan Tidak Normal Saat Hamil

Keputihan perlu mendapatkan perhatian apabila mengalami perubahan yang tidak biasa.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Cairan berwarna kuning kehijauan atau keabu-abuan.
  • Bau amis yang kuat atau tidak sedap.
  • Rasa gatal, terbakar, atau iritasi pada area vagina.
  • Nyeri ketika buang air kecil.
  • Nyeri pada perut bagian bawah atau panggul.
  • Perdarahan yang menyertai perubahan cairan vagina.

Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan infeksi, iritasi, atau kondisi kesehatan lainnya.

Namun, tidak semua infeksi menyebabkan gejala yang jelas. Karena itu, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan warna keputihan.

Apa Penyebab Keputihan Saat Hamil?

Keputihan selama kehamilan dapat disebabkan oleh perubahan alami tubuh maupun kondisi kesehatan tertentu.

Berikut beberapa penyebab yang perlu diketahui.

1. Perubahan Hormon Kehamilan

Peningkatan hormon estrogen selama kehamilan dapat memengaruhi produksi cairan vagina.

Akibatnya, ibu mungkin mengalami keputihan lebih banyak dibandingkan sebelum hamil.

Selama cairan memiliki karakteristik normal dan tidak disertai keluhan lain, kondisi tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.

2. Peningkatan Aliran Darah ke Area Panggul

Kehamilan menyebabkan peningkatan aliran darah ke organ reproduksi, termasuk vagina dan serviks.

Perubahan ini turut memengaruhi produksi cairan vagina.

Itulah sebabnya sebagian ibu hamil merasa area genital menjadi lebih lembap selama kehamilan.

3. Infeksi Jamur atau Kandidiasis Vagina

Kandidiasis vagina merupakan infeksi yang terjadi akibat pertumbuhan jamur Candida secara berlebihan.

Perubahan hormonal selama kehamilan dapat membuat sebagian perempuan lebih rentan mengalami kondisi ini.

Gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Keputihan putih kental menyerupai gumpalan.
  • Rasa gatal pada area vagina.
  • Kemerahan atau iritasi.
  • Sensasi perih atau terbakar.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pengobatan kandidiasis vagina selama kehamilan memerlukan perhatian khusus.

CDC merekomendasikan penggunaan obat antijamur golongan azol topikal selama tujuh hari untuk kandidiasis vagina pada kehamilan. Sementara itu, fluconazole oral tidak direkomendasikan dalam panduan tersebut karena potensi risiko terhadap kehamilan.

Ibu hamil tidak dianjurkan menggunakan obat antijamur sendiri tanpa pemeriksaan dan arahan tenaga kesehatan.

Dokter perlu memastikan penyebab keluhan sebelum menentukan terapi yang sesuai.

4. Bacterial Vaginosis (BV)

Bacterial vaginosis atau BV merupakan kondisi ketika keseimbangan bakteri alami di vagina mengalami perubahan.

Gejalanya dapat berupa cairan tipis berwarna putih keabu-abuan yang disertai bau amis, meskipun sebagian perempuan tidak mengalami keluhan yang jelas.

Menurut CDC, BV yang bergejala pada ibu hamil berkaitan dengan peningkatan risiko komplikasi tertentu, seperti persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya.

Namun, hal tersebut tidak berarti setiap ibu hamil dengan BV pasti mengalami komplikasi.

Karena itu, ibu hamil yang mengalami gejala mengarah pada BV perlu menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan sesuai diagnosis.

5. Infeksi Menular Seksual

Beberapa infeksi menular seksual (IMS), seperti trikomoniasis, gonore, dan klamidia, juga dapat menyebabkan perubahan cairan vagina.

Keluhan yang mungkin muncul meliputi keputihan tidak biasa, nyeri saat buang air kecil, nyeri panggul, atau perdarahan.

Sebagian infeksi bahkan dapat berlangsung tanpa gejala.

Jika terdapat kemungkinan paparan IMS, ibu hamil sebaiknya menyampaikan informasi tersebut kepada dokter agar pemeriksaan dan penanganan yang sesuai dapat dilakukan.

6. Iritasi Akibat Produk Kewanitaan

Penggunaan sabun berpewangi, semprotan kewanitaan, tisu pembersih beraroma, atau produk tertentu dapat menyebabkan iritasi pada area genital.

Kebiasaan membersihkan bagian dalam vagina menggunakan cairan khusus atau douching juga tidak dianjurkan.

Vagina memiliki mekanisme pembersihan alami sehingga tidak perlu dibersihkan hingga ke bagian dalam.

Untuk menjaga kebersihan, cukup bersihkan area luar genital secara lembut menggunakan air bersih.

Apakah Keputihan Saat Hamil Berbahaya bagi Janin?

Keputihan normal tidak membahayakan janin. Namun, beberapa infeksi yang menyebabkan keputihan tidak normal dapat meningkatkan risiko komplikasi apabila tidak ditangani dengan tepat.

Sebagai contoh, bacterial vaginosis yang bergejala selama kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya.

Infeksi menular seksual tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan ibu maupun bayi jika tidak terdeteksi dan ditangani.

Meski demikian, ibu hamil tidak perlu langsung panik ketika mengalami peningkatan keputihan.

Hal terpenting adalah memperhatikan perubahan karakteristik cairan dan gejala yang menyertainya.

Jika terdapat keluhan tidak biasa, pemeriksaan dokter dapat membantu memastikan apakah kondisi tersebut merupakan perubahan normal atau membutuhkan pengobatan.

Tanda Bahaya Keputihan Saat Hamil yang Tidak Boleh Diabaikan

Tidak semua keputihan membutuhkan penanganan darurat. Namun, ada beberapa kondisi yang perlu segera mendapatkan perhatian medis.

Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Dokter?

Ibu hamil sebaiknya menghubungi dokter apabila mengalami:

  • Keputihan berwarna kuning kehijauan atau keabu-abuan.
  • Bau vagina yang kuat atau tidak biasa.
  • Gatal, rasa terbakar, atau iritasi.
  • Nyeri ketika buang air kecil.
  • Nyeri panggul atau perut bagian bawah.

Gejala tersebut dapat menunjukkan infeksi atau kondisi lain yang membutuhkan pemeriksaan.

Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?

Segera cari pertolongan medis apabila mengalami:

  • Cairan encer yang keluar terus-menerus atau tiba-tiba membasahi pakaian dalam.
  • Perdarahan vagina, terutama jika banyak atau disertai nyeri.
  • Nyeri perut hebat.
  • Demam yang disertai keluhan pada area genital atau perut.
  • Cairan yang dicurigai sebagai air ketuban berwarna kehijauan atau bercampur darah.
  • Pusing berat, hampir pingsan, atau kondisi tubuh terasa sangat lemah.

Cairan yang terus merembes dapat menjadi tanda ketuban pecah sebelum waktunya.

Jika mengalami kondisi tersebut, gunakan pembalut bersih untuk membantu mengamati cairan yang keluar dan segera menuju fasilitas kesehatan.

Hindari penggunaan tampon dan jangan mencoba memastikan sendiri apakah cairan tersebut merupakan keputihan biasa atau air ketuban.

Bagaimana Cara Mengatasi Keputihan Saat Hamil dengan Aman?

Cara mengatasi keputihan saat hamil bergantung pada penyebabnya.

Keputihan normal tidak membutuhkan obat, sedangkan keputihan akibat infeksi memerlukan pemeriksaan dan terapi yang sesuai.

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kenyamanan area genital selama kehamilan.

1. Bersihkan Area Genital Secara Lembut

Gunakan air bersih untuk membersihkan bagian luar vagina atau vulva.

Hindari penggunaan produk berpewangi atau antiseptik yang dapat menyebabkan iritasi.

Tidak perlu membersihkan bagian dalam vagina karena organ ini memiliki mekanisme pembersihan alami.

2. Gunakan Pakaian Dalam yang Nyaman

Pilih pakaian dalam yang menyerap keringat, seperti berbahan katun.

Hindari pakaian yang terlalu ketat dan ganti pakaian dalam apabila sudah lembab atau basah.

Langkah ini dapat membantu menjaga kenyamanan area genital.

3. Hindari Produk Kewanitaan Berpewangi

Produk seperti pewangi vagina, semprotan genital, dan tisu pembersih beraroma tidak diperlukan untuk menghilangkan keputihan normal.

Pada sebagian perempuan, produk tersebut justru dapat memicu iritasi.

4. Gunakan Pantyliner Jika Diperlukan

Pantyliner tanpa pewangi dapat digunakan untuk membantu menyerap cairan vagina.

Namun, pastikan untuk menggantinya secara berkala dan hentikan penggunaan apabila muncul iritasi.

Pantyliner bukan pengobatan untuk infeksi dan tidak boleh digunakan untuk menunda pemeriksaan apabila cairan dicurigai sebagai air ketuban.

5. Jangan Menggunakan Obat Keputihan Sembarangan

Hindari penggunaan obat antijamur, antibiotik, antiseptik vagina, atau ramuan tradisional tanpa arahan tenaga kesehatan.

Tidak semua pengobatan sesuai untuk setiap jenis infeksi maupun kondisi kehamilan.

Dokter perlu menentukan penyebab keputihan sebelum memilih obat yang tepat.

6. Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Secara Rutin

Pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) membantu memantau kondisi ibu dan perkembangan janin.

Melalui konsultasi, ibu juga dapat menyampaikan keluhan mengenai keputihan, perubahan cairan vagina, atau gejala lain yang muncul selama kehamilan.

Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui penyebab keluhan.

Apakah Keputihan Saat Hamil Bisa Dicegah?

Keputihan normal tidak perlu dicegah karena merupakan bagian dari perubahan alami selama kehamilan.

Sementara itu, beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko iritasi dan infeksi tertentu.

Di antaranya menjaga kebersihan area luar genital, menghindari douching, mengganti pakaian dalam yang lembab, serta menghindari penggunaan produk kewanitaan yang menimbulkan iritasi.

Penggunaan kondom juga dapat membantu mengurangi risiko infeksi menular seksual apabila terdapat kemungkinan paparan.

Namun, tidak ada satu metode yang dapat menjamin seluruh jenis infeksi vagina dapat dicegah.

Konsumsi probiotik atau suplemen tertentu juga tidak boleh dianggap sebagai cara yang pasti efektif untuk mencegah maupun mengobati seluruh penyebab keputihan abnormal.

Karena itu, mengenali perubahan gejala dan mendapatkan pemeriksaan ketika diperlukan tetap menjadi langkah penting.

Konsultasi Keputihan Saat Hamil di KMNC

Mengalami keputihan selama kehamilan tidak selalu berarti terdapat masalah kesehatan. Namun, ibu hamil sebaiknya tidak mengabaikan perubahan cairan vagina yang disertai keluhan tidak biasa.

Pemeriksaan dokter dapat membantu mengetahui apakah keputihan merupakan perubahan normal akibat hormon kehamilan atau berkaitan dengan infeksi maupun kondisi lain yang membutuhkan penanganan.

KMNC (Kosambi Maternal and Children) menyediakan layanan konsultasi kehamilan yang dapat membantu ibu mendiskusikan berbagai keluhan selama masa kehamilan.

Melalui pemeriksaan sesuai kebutuhan medis, dokter dapat memberikan penjelasan mengenai kondisi ibu serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau pengobatan lebih lanjut.

Untuk memperoleh informasi mengenai layanan, jadwal dokter, dan pendaftaran, ibu dapat mengunjungi website resmi kmnc.co.id atau menghubungi WhatsApp 0811-1028-232.

Ketersediaan layanan dan jadwal dokter dapat berbeda pada setiap cabang KMNC.

Kesimpulan

Keputihan saat hamil umumnya merupakan kondisi normal yang dipengaruhi oleh perubahan hormon dan peningkatan aliran darah ke area reproduksi.

Cairan berwarna bening atau putih susu, tidak berbau menyengat, serta tidak disertai gatal maupun nyeri biasanya merupakan bagian dari perubahan alami tubuh selama kehamilan.

Namun, keputihan yang berubah warna, berbau tidak sedap, disertai rasa gatal, nyeri, atau perdarahan perlu mendapatkan perhatian medis.

Cairan yang terus merembes atau keluar mendadak seperti air juga harus segera diperiksa karena dapat menandakan kebocoran air ketuban.

Jangan menebak penyebab keputihan atau menggunakan obat sendiri selama kehamilan. Pemeriksaan yang tepat membantu memastikan kesehatan ibu dan janin tetap terpantau dengan baik.

Referensi Medis:

  1. National Health Service (NHS). Vaginal Discharge in Pregnancy. https://www.nhs.uk/pregnancy/common-symptoms/vaginal-discharge/
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Bacterial Vaginosis – STI Treatment Guidelines. https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/bv.htm
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Vulvovaginal Candidiasis – STI Treatment Guidelines. https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/candidiasis.htm
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Pregnant Women – STI Treatment Guidelines. https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/pregnant.htm
  5. National Health Service (NHS). Signs That Labour Has Begun. https://www.nhs.uk/pregnancy/labour-and-birth/signs-of-labour/signs-that-labour-has-begun/

dr. Nur E.P. Nahdiyat, Sp.OG, M.Res

dr. Nur Eulis Pujiastuti Nahdiyat, Sp.OG, MRes adalah dokter spesialis kebidanan dan kandungan di KMNC (Kosambi Maternal and Children) Rawamangun yang memiliki passion besar dalam mendampingi perjalanan ibu mulai dari program hamil, masa kehamilan, hingga persalinan. Dengan pendekatan lembut dan penuh empati, dr. Nur Eulis Pujiastuti Nahdiyat, Sp.OG, MRes berkomitmen untuk membuat setiap ibu merasa aman, tenang, dan percaya diri selama proses kehamilan. Dalam praktiknya, dr. Nahdiyat dikenal mendukung persalinan normal sesuai indikasi medis, dengan tetap mengutamakan keselamatan ibu dan bayi.

dr. Nur Eulis Pujiastuti Nahdiyat, Sp.OG, MRes adalah seorang Dokter Kandungan, beliau menamatkan pendidikan Kedokteran Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Universitas Indonesia.

dr. Nur Eulis Pujiastuti Nahdiyat, Sp.OG, MRes merupakan anggota dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Adapun layanan kesehatan yang dapat Beliau berikan meliputi Konsultasi Kesehatan terkait kebidanan dan kandungan.


EDUCATIONAL BACKGROUND:
1. Specialist Training in Obstetric and Gynecology University of Indonesia (2020 - 2024)
2. Medical Doctor Faculty of Medicine University of Indonesia (2011 - 2017)
3. Master by Research Newcastle University (2014 - 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from - Youtube
Vimeo
Consent to display content from - Vimeo
Google Maps
Consent to display content from - Google
Spotify
Consent to display content from - Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from - Sound